Perda Kab. Fak Fak

Beberapa Peraturan Daerah Kabupaten Fakfak :
Perda No. 2 Th. 2000 Retribusi Pelayanan Kebersihan
Perda No. 3 Th. 2000 Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah
Perda No. 4 Th. 2000 Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol
Perda No. 5 Th. 2000 Retribusi Izin Pengambilan Hasil Hutan Ikutan
Perda No. 6 Th. 2000 Perubahan atas Perda Kabupaten Fakfak No. 23 Tahun 1998 tentang Izin Gangguan
Perda No. 22 Th. 2000 Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Fakfak No. 21 Tahun 1998 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan
Perda No. 3 Th. 2004 Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
Perda No. 4 Th. 2004 Izin Trayek
Perda No. 5 Th. 2004 Retribusi Izin Usaha Perbengkelan
Perda No. 6 Th. 2004 Retribusi Terminal Angkutan Penumpang Umum
Perda No. 7 Th. 2004 Retribusi Izin Usaha Perdagangan
Perda No. 8 Th. 2004 Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi
Perda No. 9 Th. 2004 Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Fakfak Nomor 16 Tahun 1998 tentang Pajak Hiburan
Perda No. 12 Th. 2004 Sumbangan Pihak Ketiga Bagi Pembangunan Daerah
Perda No. 5 Th. 2001 Retribusi Pelayanan Pendaftaran dan Pencatatan Penduduk
Perda No. 6 Th. 2002 Retribusi Pengujian Mutu Komoditi Pala
Perda No. 7 Th. 2002 Retribusi Izin Usaha Perikanan 
Perda No. 8 Th. 2002 Retribusi Izin Pengelolaan dan Pengusahaan Sarang Burung Walet di Kab. Fakfak
Perda No. 9 Th. 2002 Retribusi Izin Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C
SK. Bupati No. 108 Th. 2004 Petunjuk Pelaksanaan Perda No. 7 Tahun 2004 tentang Retribusi Izin Usaha Perdagangan
SK. Bupati No. 114 Th. 2004 Hygiene dan Sanitasi Usaha-Usaha Bagi Umum dan Pengawasan Kualitas Air
Perda No. 3 Th. 2004 Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
Perda No. 4 Th. 2004 Izin Trayek
Perda No. 5 Th. 2004 Retribusi Izin Usaha Perbengkelan
Perda No. 6 Th. 2004 Retribusi Terminal Angkutan Penumpang Umum
Perda No. 7 Th. 2004 Retribusi Izin Usaha Perdagangan
Perda No. 8 Th. 2004 Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi
Perda No. 9 Th. 2004 Perubahan Pertama Perda Kab. Fakfak No. 16 Tahun 1998 tentang Pajak Hiburan
Perda No. 10 Th. 2004 Pembentukan Perusahaan Daerah "Mbiah Pohi"
Sumber : Indeks KPPD

Keadaan Sosial Budaya Provinsi Papua Barat

Sudah sejak lama ujung barat laut Irian dan seluruh pantai utara penduduknya dipengaruhi oleh penduduk dari kepulauan Maluku (Ambon, Ternate, Tidore, Seram dan Key), maka adalah tidak mengherankan apabila suku-suku bangsa disepanjang pesisir pantai (Fak-Fak, Sorong, Manokwari dan Teluk Cenderawasih) lebih pantas digolongkan sebagai Ras Melanesia dari pada Ras Papua.

map-bird-impression papua

 Zending atau misi kristen protestan dari Jerman (Ottow & Geissler) tiba di pulau Mansinam Manokwari 5 Februari 1855 untuk selanjutnya menyebarkan ajaran agama disepanjang pesisir pantai utara Irian. Pada tanggal 5 Februari 1935, tercatat lebih dari 50.000 orang menganut agama kristen protestan. Kemudian pada tahun 1898 pemerintah Hindia Belanda membuka Pos Pemerintahan pertama di Fak-Fak dan Manokwari dan dilanjutkan dengan membuka pos pemerintah di Merauke pada tahun 1902. Dari Merauke aktivitas keagamaan misi katholik dimulai dan pada umumnya disepanjang pantai selatan Irian. Pada tahun 1933 tercatat sebanyak 7.100 orang pemeluk agama katholik. Pendidikan dasar sebagian besar diselenggarakan oleh kedua misi keagamaan tersebut, dimana guru sekolah dan guru agama umumnya berasal dari Indonesia Timur (Ambon, Ternate, Tidore, Seram, Key, Manado, Sanger-Talaud, dan Timor), dimana pelajaran diberikan dalam bahasa Melayu. Pembagian kedua kelompok agama tersebut kelihatannya identik dengan keadaan di Negeri Belanda dimana Kristen Protestan di Utara dan Kristen Katholik di Selatan.
Pendidikan mendapat jatah yang cukup besar dalam anggaran pemerintah Belanda, pada tahun-tahun terakhir masa penjajahan, anggaran pendidikan ini mencapai 11% dari seluruh pengeluaran tahun 1961. Akan tetapi pendidikan tidak disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja disektor perekonomian modern, dan yang lebih diutamakan adalah nilai-nilai Belanda dan agama Kristen. Pada akhir tahun 1961 rencana pendidikan diarahkan kepada usaha peningkatan keterampilan, tetapi lebih diutamakan pendidikan untuk kemajuan rohani dan kemasyarakatan. Walaupun bahasa "Melayu" dijadikan sebagai bahasa "Franca" (Lingua Franca), bahasa Belanda tetap diajarkan sebagai bahasa wajib mulai dari sekolah dasar, bahasa-bahasa Inggris, Jerman dan Perancis merupakan bahasa kedua yang mulai diajarkan di sekolah lanjutan.
Pada tahun 1950-an pendidikan dasar terus dilakukan oleh kedua misi keagamaan tersebut. Tercatat bahwa pada tahun 1961 terdapat 496 sekolah misi tanpa subsidi dengan kurang lebih 20.000 murid. Sekolah Dasar yang bersubsidi sebanyak 776 dengan jumlah murid pada tahun 1961 sebanyak kurang lebih 45.000 murid, dan seluruhnya ditangani oleh misi, dan pelajaran agama merupakan mata pelajaran wajib dalam hal ini. Pada tahun 1961 tercatat 1.000 murid belajar di sekolah menengah pertama, 95 orang Irian Belajar diluar negeri yaitu Belanda, Port Moresby, dan Australia dimana ada yang masuk Perguruan Tinggi serta ada yang masuk Sekolah Pertanian maupun Sekolah Perawat Kesehatan (misalnya pada Nederland Nasional Institut for Tropica Agriculture dan Papua Medical College di Port Moresby).
Walaupun Belanda harus mengeluarkan anggaran yang besar untuk menbangun Irian Barat, namun hubungan antara kota dan desa atau kampung tetap terbatas. Hubungan laut dan luar negeri dilakukan oleh perusahaan Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) yang menghubungkan kota-kota Hollandia, Biak, Manokwari, Sorong, Fak-Fak, dan Merauke, Singapura, Negeri Belanda. Selain itu ada kapal-kapal kecil milik pemerintah untuk keperluan tugas pemerintahan. Belanda juga membuka 17 kantor POS dan telekomunikasi yang melayani antar kota. Terdapat sebuah telepon radio yang dapat menghubungi Hollandia-Amsterdam melalui Biak, juga ditiap kota terdapat telepon. Terdapat perusahaan penerbangan Nederland Nieuw Guinea Luchvaart Maatschappij (NNGLM) yang menyelenggarakan penerbangan-penerbangan secara teratur antara Hollandia, Biak, Manokwari, Sorong, Merauke, dan Jayawijaya dengan pesawat DC-3, kemudian disusul oleh perusahaan penerbangan Kroonduif dan Koniklijk Luchvaart Maatschappij (KLM) untuk penerbangan luar negeri dari Biak. Sudah sejak tahun 1950 lapangan terbang Biak menjadi lapangan Internasional. Selain penerbangan tersebut, masih terdapat juga penerbangan yang diselenggarakan oleh misi protestan yang bernama Mission Aviation Fellowship (MAF) dan penerbangan yang diselenggarakan oleh misi Katholik yang bernama Associated Mission Aviation (AMA) yang melayani penerbangan ke pos-pos penginjilan di daerah pedalaman. Jalan-jalan terdapat disekitar kota besar yaitu di Hollandia 140 Km, Biak 135 Km, Manokwari 105 Km, Sorong 120 Km, Fak-Fak 5 Km, dan Merauke 70 Km.
Mengenai kebudayaan penduduk atau kultur masyarakat di Irian Barat dapat dikatakan beraneka ragam, beberapa suku mempunyai kebudayaan yang cukup tinggi dan mengagumkan yaitu suku-suku di Pantai Selatan Irian yang kini lebih dikenal dengan suku "ASMAT" kelompok suku ini terkenal karena memiliki kehebatan dari segi ukir dan tari. Budaya penduduk Irian yang beraneka ragam itu dapat ditandai oleh jumlah bahasa lokal khususnya di Irian Barat. Berdasarkan hasil penelitian dari suami-isteri Barr dari Summer Institute of Linguistics (SIL) pada tahun 1978 ada 224 bahasa lokal di Irian Barat, dimana jumlah itu akan terus meningkat mengingat penelitian ini masih terus dilakukan. Bahasa di Irian Barat digolongkan kedalam kelompok bahasa Melanesia dan diklasifikasikan dalam 31 kelompok bahasa yaitu:
Tobati, Kuime, Sewan, Kauwerawet, Pauwi, Ambai, Turu, Wondama, Roon, Hatam, Arfak, Karon, Kapaur, Waoisiran, Mimika, Kapauku, Moni, Ingkipulu, Pesechem, Teliformin, Awin, Mandobo, Auyu, Sohur, Boazi, Klader, Komoron, Jap, Marind-Anim, Jenan, dan Serki. Jumlah pemakai bahasa tersebut diatas sangat bervariasi mulai dari puluhan orang sampai puluhan ribu orang.
Secara tradisional, tipe pemukiman masyarakat Irian Barat dapat dibagi kedalam 4 kelompok dimana setiap tipe mempunyai corak kehidupan sosial ekonomi dan budaya tersendiri.

  1. Penduduk pesisir pantai;
    Penduduk ini mata pencaharian utama sebagai Nelayan disamping berkebun dan meramu sagu yang disesuaikan dengan lingkungan pemukiman itu. Komunikasi dengan kota dan masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka.
  2. Penduduk pedalaman yang mendiami dataran rendah;
    Mereka termasuk peramu sagu, berkebun, menangkap ikan disungai, berburu dihuta disekeliling lingkungannya. Mereka senang mengembara dalam kelompok kecil. Mereka ada yang mendiami tanah kering dan ada yang mendiami rawa dan payau serta sepanjang aliran sungai. Adat Istiadat mereka ketat dan selalu mencurigai pendatang baru.
  3. Penduduk pegunungan yang mendiami lembah;
    Mereka bercocok tanam, dan memelihara babi sebagai ternak utama, kadang kala mereka berburu dan memetik hasil dari hutan. Pola pemukimannya tetap secara berkelompok, dengan penampilan yang ramah bila dibandingkan dengan penduduk tipe kedua (2). Adat istiadat dijalankan secara ketat dengan "Pesta Babi" sebagai simbolnya. Ketat dalam memegang dan menepati janji. Pembalasan dendam merupakan suatu tindakan heroisme dalam mencari keseimbangan sosial melalui "Perang Suku" yang dapat diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Sifat curiga tehadap orang asing ada tetapi tidak seketat penduduk tipe 2 (kedua).
  4. Penduduk pegunungan yang mendiami lereng-lereng gunung;
    Melihat kepada tempat pemukimannya yang tetap di lereng-lereng gunung, memberi kesan bahwa mereka ini menempati tempat yang strategis terhadap jangkauan musuh dimana sedini mungkin selalu mendeteksi setiap makhluk hidup yang mendekati pemukimannya. Adat istiadat mereka sangat ketat, sebagian masih "KANIBAL" hingga kini, dan bunuh diri merupakan tindakan terpuji bila melanggar adat karena akan menghindarkan bencana dari seluruh kelompok masyarakatnya. Perang suku merupakan aktivitas untuk pencari keseimbangan sosial, dan curiga pada orang asing cukup tinggi juga.
Dalam berbagai kebudayaan dari penduduk Irian ada suatu gerakan kebatinan yang dengan suatu istilah populer sering disebut cargo cults. Ada suatu peristiwa gerakan cargo yang paling tua di Irian Jaya pada tahun 1861 dan terjadi di Biak yang bernama "KORERI". Peristiwa atau gerakan cargo terakhir itu pada tahun 1959 sampai tahun 1962 di Gakokebo-Enarotali (kabupaten Paniai) yang disebut "WERE/WEGE" sebagaimana telah dikemukakan bahwa gerakan ini yang semula bermotif politik.
Pada waktu Belanda meniggalkan Irian Barat, posisi-posisi baik dibidang pemerintahan, pembangunan (dinas-jawatan) baik sebagai pimpinan maupun pimpinan menengah diserahterimakan kepada putra daerah (orang Papua/Irian Barat) sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Juga seluruh rumah dan harta termasuk gedung dan tanah milik orang Belanda itu diserahkan kepada kenalan mereka orang Papua (pembantu dan teman sekerja) untuk dimiliki, karena mereka tidak bisa menjualnya dan juga tidak ada pembeli pada masa itu.

Belanda juga meninggalkan ekses konflik antara suku-suku besar sebagai akibat dari aktivitas politik yaitu pertentangan antara "Elite Pro-Papua" dan "Elite Pro-Indonesia" yang ditandai dengan pertentangan antara "Suku Biak lawan Suku Serui, Suku tanah Merah-Jayapura lawan Suku Serui", sekalipun dalam hal ini tidak semua orang Biak itu pro-Papua, tidak semua orang Serui itu pro-Indonesia dan tidak semua orang Tanah Merah-Jayapura itu pro-Papua dan pro-Indonesia.

Berdasarkan pengalaman Belanda di Indonesia atau Hindia-Belanda dalam kemerdekaan tahun 1945, maka Belanda didalam menjajah Irian Barat sangat hati-hati sekali dalam meningkatkan kehidupan Masyarakat di berbagai bidang, dan Belanda sengaja memperlambat perkembangan di Irian Barat/Nieuw Guinea sesuai dengan permintahaan dan kebutuhan orang-orang Irian Barat. Katakanlah bahwa ini suatu bentuk "Etis-Politik Gaya Baru". Termasuk didalamnya usaha untuk membentuk "Nasionalisme Papua". Cara Belanda yang demikian itu menyebabkan orang-orang Irian Jaya tidak merasa bahwa mereka sedang dijajah sebab mereka hidup dalam suatu keadaan perekonomian yang baik dan tidak merasakan adanya penderitaan dan tekanan dari Belanda.

Sumber : Indonesia. Web
Matahari, Air, Langit, dan Cadas Fakfak

Matahari, Air, Langit, dan Cadas Fakfak



lansekap perbukitan cadas tepi pantai Kota Fakfak di suatu siang yang cerah..
Beberapa Sahabat dari banyak kantong Negeri sedang banyak utarakan jeda kejengahannya akan bombardir berita ini itu.. itu ini .. di ragam Media termasuk <www.Kompasiana.com> soal suhu Politik sang Negeri yang konon sedang anget-angetnya jelang hari penting Pemilu.. di Negeri yang (masih sepakat) sama kami cintai ini.
..lansekap perbukitan cadas tepi pantai Kota Fakfak di suatu siang yang cerah..
Tiba-tiba saja menyeruak di benak, beberapa koleksi jepretan seadanya.. dari sebuah Kota kecil nun jauh di ujung Timur sang Negeri (tempat kuabdikan diri di bidang Kesehatan sementara waktu ini), dari memori kamera seadanya milikku, Dr.Reninditha, dan Dr.Andrea: Fakfak.
Rasanya, hadiah lansekap sang Kota bisa kupersembahkan.
Sejenak di jeda meng-upload photo pilihan, melintas empat kata di ujung benak ini: Matahari, Air, Langit, sekaligus Cadas.
Entah apa dadakan logisnya, Sahabatku.. mengapa Pohon.. Tongkang.. Menara Tiang Antena.. kelebat mobil angkot yang biasa disebut “taxi”.. atau tampilan material kasat mata lain dalam photo-photo ini tidak terlampau mengusik benakku, melampaui keempat kata benda itu.
Sejenak, menarilah sang benak terbatas ini..
..lansekap senja dataran seberang Jalan Baru Kota FakfakMatahari. Photo-photo ini begitu polos berujar terkait kondisi keapaadaannya, tanpa bantuan cahaya lain selain limpahan berkas sinar Matahari di langit Kota Fakfak sesaat semata.
Air. Keberadaannya dalam setiap photo terasakan begitu berperan sentral. Kebetulan, ia magnet utama setiap sesi pemotretan.
Langit. Entahkah.. ia tampak begitu pasrah relakan nuansanya, begitu dipengaruhi oleh geliat sang Matahari..

..ranumnya senja dari tepian Jalan Baru Kota Fakfak..
Cadas. Ach, yang ini begitu khas milik sang Kota. Seluruh dasar sang Kota. Cadas..Cadas..’n sekali lagi Cadassss… Ia abadi milik Kota Tua Fakfak.. Kuyakin, usianya jauh lebih renta dibanding keberadaan tanaman Pala, komoditi andalan sang Kota. Yang karenanya, julukan Kota Cadas tepat, aku kira. :)
.Jalan Baru, dari dataran seberang.. Bagaimana tidak, sebab tanaman Pala sangat mungkin jauh lebih cepat punah bila regenerasi tanaman tidak diupayakan maksimal. Sementara sang Cadas? Meski ia terus digempur untuk keperluan ini itu pembangunan sang Kota.. ia hanya bisa punah andai sang Kota telah tergerus habis. Bagaimana bisa? Sebab hanya Cadaslah dasar sang Kota. Begitu khas.. ‘n padat olehnya. Cadas, oh sang cadas Kota Fakfak..

..lansekap senja dataran seberang Jalan Baru Kota Fakfak
.Jalan Baru, dari dataran seberang..


..ranumnya senja dari tepian Jalan Baru Kota Fakfak..
Photo0062-001
..sunset di Pasir Putih, Fakfak..
..sunset di Pasir Putih, Fakfak..
Demikian, Sahabatku..
Semoga tampilan polos sang Matahari, Air, Langit, ‘n Cadas Kota Tua Fakfak bisa menjadi hadiah yang cukup pantas kuberikan kepadamu.
Sang Material, ia sekedar lambang. Sang Makna.. ia jauh lebih abadi.. Dan, sang Makna atas setiap darinya-lah yang (sejatinya) kupersembahkan bagimu kali ini..
..terimakasih..

Sumber :R.ngt. Anastasia Ririen Pramudyawati
POLITEKNIK NEGERI FAKFAK

POLITEKNIK NEGERI FAKFAK

Persiapan Pendirian Politeknik Negeri Fakfak

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso melakukan kunjungan singkat ke Kabupaten Fakfak, Propinsi Papua Barat dalam rangka persiapan pendirian Politeknik Negeri Fakfak.
Djoko mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menandatangani Nota Kesepahaman Persiapan Pendirian Politeknik Negeri Fakfak, Naskah Perjanjian Hibah Daerah dan Berita Acara Serah Terima Asset Tanah dari Pemerintah Kabupaten Fakfak ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk dibangun Kampus Politeknik Negeri Fakfak.
Djoko berkata, “Politeknik Negeri Fakfak bukan hanya menyelenggarakan pendidikan vokasi jenjang Diploma 3 dan Diploma 4, namun direncanakaan juga jenjang Master Terapan dan Doktor Terapan.  Lulusan Politeknik Negeri Fakfak diharapkan bukan hanya menjadi pemimpin Fakfak. Namun juga memimpin Papua atau Papua Barat dan sangat mungkin juga menjadi pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.”
Politeknik Negeri Fakfak akan menjadi Perguruan Tinggi Negeri keempat di tanah Papua menyusul tiga PTN sebelumnya yaitu Universitas Cendrawasih di Jayapura, Universitas Negeri Papua di Manokwari dan Universitas Musamus di Merauke.  Dengan adanya Politeknik Negeri Fakfak, diharapkan kebutuhan sumber daya manusia terampil di wilayah Papua dan Papua Barat akan dapat dipenuhi oleh putra-putri asli Papua.
Bupati Fakfak Muhammad Uswanas menyambut gembira dengan dipilihnya Fakfak sebagai lokasi pendirian Politeknik Negeri oleh pemerintah pusat “Dengan adanya Politeknik Negeri di Fakfak, diharapkan sumber daya manusia Fakfak pada khususnya dan sumber daya manusia Papua atau Papua Barat dapat menjadi tenaga terampil yang mampu mengolah sumber daya alam Papua secara mandiri” ujar Uswanas dalam sambutannya.

Sumber : DIKTI









POTENSI PARIWISATA

Kabupaten Fak Fak, Potensi Yang Perlu Digarap




Kabupaten Fak Fak, Provinsi Papua Barat terletak di kepala burung bagian selatan letaknya sangat strategis karena mempunya hub dengan Kota Ambon yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan kota-kota lain di pulau Papua. Ambon-Fak Fak mempunyai jarak tempuh 1 jam 15 menit dengan pesawat tipe kecil seperti Wings Airlines. Pesawat besar setipe boing memang belum bisa mendarat di Torea Airport, untuk itu saat ini Pemerintah Kabupaten Fak Fak saat ini sedang mempersiapkan landasan pacu pesawat yang lebih panjang agar bisa menjadi bandar udara baru yang diharapkan menjadi bandar udara internasional. Bandar Udara ini nantinya berada di daerah Sipatnanam/Siboru di Distrik Fak Fak Barat.



Kota Fak Fak juga disebut sebagai "Kota Pala" karena kota ini mempunyai hasil pertanian/kehutanan khas yaitu pohon pala yang menghasilkan buah dan biji  pala. Buah pala oleh beberapa home industry kecil dimanfaatkan untuk dioleh menjadi manisan pala, dodol pala dan sirup pala, sedangkan biji pala merupakan salah satu rempah-rempah yang banyak dipergunakan sebagai bumbu pelengkap makanan seperti sup ayam atau sebagai topping untuk kopi selain vanilla dan biji nutmeg. Banyaknya hasil pohon pala ini nampaknya kurang tertampung untuk dikembangkan menjadi industri yang lebih besar lagi sehingga dapat didistribusikan baik secara nasional maupun internasional. 

Disamping itu, Kabupaten Fak Fak dari keseluruhan yaitu sekitar 81,5% terdiri dari hutan memiliki potensi ekonomi bidang perikanan, pertanian, kehutanan, perkebunan, bahan galian sperti minyak dan gas bumi serta emas.  Beberapa perusahaan minyak asing Amerika Sekikat seperti Hess dan perusahaan-perusahaan minyak asing lainnya juga melakukan eksplorasi minyak di perairan sekitar Kabupaten Fak Fak ini.

Selain Sumber Daya Alam yang dimiliki oleh Kabupaten Fak Fak, untuk Sumber Daya Manusia Kabupaten Fakfak juga tersedia tenaga kerja yang cukup potensial. Namun masalah kendala seperti infrastruktur seperti listrik, pelabuhan laut, darat  maupun udara, telekomunikasi, sarana pendidikan dan kesehatan  diharapkan dapat dilakukan kerja sama dengan pihak asing untuk pengembangan Kabupaten Fak Fak kedepan serta investor asing maupun domestik ini belum tergarap disamping industri dan potensi-potensi lain. 

Di bidang pariwisata, Kabupaten Fak Fak memiliki beberapa situs budaya yang dapat menjadi daya tarik bagi peningkatan pembangunan di bidang pariwisata. Beberapa pusat wisata baik ekoturisme keindahan laut, peninggalan pra sejarah, keindahan alam hutannya belum membuat wisatawan mancanegara maupun domestik yang berkeinginan untuk mengunjungi Kabupaten Fak Fak dikarenakan rendahnya dan kurang memadai sarana dan prasarana penunjang pariwisata baik transaportasi darat maupun udara.
Potensi wisata di Kabupaten Fak Fak saat ini belum tersentuh oleh investor baik dari dalam maupun luar negeri. Obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi sebagai tempat pariwisata antara lain, Desa Ubadari (sumber air), Distrik Kokas dengan pemandangan alam teluk dan pulau yang masih alami dan belum dipromosikan sebagai tujuan wisata, goa peninggalan Jepang pada waktu Perang Dunia II, telapak tangan jaman prasejarah dan masjid Patimburak – masjid tertua di Papua yang didirikan pada tahun 1870.
Kabupaten Fak Fak setelah berada dalam Provinsi pemekaran Papua Barat (dulu Irian Jaya Barat) terbagi menjadi dua kabupaten perluasan sehingga diperluas menjadi Kabupatan Kaimana di sebelah timur dan kemungkiinan besar Kabupaten Fak Fak sendiri akan dibagi lagi menjadi Kabupaten Kokas yang saat ini masih sebagai distrik (kecamatan). Distrik Kokas  terletak 50 km yang dapat ditempuh dengan jalan darat yang lancar namun sempit hal ini lebih baik dibandingkan dilakukan melalui jalan laut sekitar 6 jam.  

WEBSITE FAKFAK

Sampai dengan saat ini website resmi kabupaten Fakfak, tak bisa di buka. Jika anda berkunjung kesana yang akan nampak di layar hanyalah tulisan :    
Apa dan kenapa, sampai dengan saat ini masih seperti ini ? 
Dampak dari matinya website ini membuat akses dari luar Fakfak, untuk mengetahui perkembangan dalam Fakfak melalui dunia internetpun tak ada. Bahkan berungkali ada kunjungan ke website tersebut hyang tampil hanya tulisan tersebut. 
Wah Fakfak sepertinya tak ada perkembangan teknologi ditingkatan pemerintahan, terutama bidang yang terkait yang mengurusi hal-hal informatika dll.

Untuk perkembangan di masyrakat sangat baik dan positif sekali, hal ini dilihat dari ada beberapa warung internet (warnet) yang di buka dengan jumlah pengunjung lumayan banyak, namun kendala utamanya adalah masih mahalnya biara akses internet.
Harapan ke depan semoga saja ada perhatian pemerintah untuk membuka lokasi-lokasi host pot, internet wifi dan sebagainya agar masyarakat Fakfak dalam mengikuti perkembang dunia juga melalui internet yang murah. Internet kan juga untuk rakyat. (ph)

PALA FAKFAK


Kota Fakfak dijuluki sebagai Kota Pala karena pala menjadi sektor unggulan bagi Kabupaten Fakfak disamping hasil kelautannya. Karena hampir sebagian besar hutan ditumbuhi oleh tanaman pala, kehidupan ekonomi dan aktifitas sebagian dari masyarakat berkaitan dengan tanaman pala. Adapun nilai ekonomis dari buah pala sendiri terletak pada biji pala dan fuli (mace) yang dapat dijadikan minyak pala. Daging buah pala yang merupakan bagian terbesar dari hasil panen buah pala merupakan suatu potensi bahan baku yang sangat besar untuk dapat dimanfaatkan, dalam pembuatan manisan pala, sirop, selai dsb.
BIJI PALABUAH PALA
Pada awalnya daging buah pala di kota Fakfak tidak ada yang memanfaatkan sehingga terbuang begitu saja. Namun sejak tahun 1980, salah seorang warga kampung Sekban Distrik (Kecamatan) Fakfak yang bernama Ibu Wa Jamiya (alm) beserta keluarganya mencoba memulai bisnis pembuatan manisan pala dan ternyata diminati oleh warga di Fakfak. Maka sejak saat itu, usaha pembuatan manisan pala di kota Fakfak trus berkembang hingga saat ini. Kini, lebih kurang sekitar 80 orang ibu-ibu (yang hingga sekarang menjadi kelompok dampingan UNV program PcDP-UNDP) warga Kampung Sekban dan warga Kampung Dulan pokpok Distrik Fakfak mempunyai usaha mengolah daging buah pala menjadi manisan, permen, sirop, asinan, kecap dan selai dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
Manisan pala yang diproduksi oleh ibu-ibu dari Fakfak ini mempunyai rasa yang berbeda dengan manisan pala yang diproduksi dari daerah lain seperti dari : Banda, Manado (Sulawesi Utara) maupun dari Bogor. Hal ini disebabkan karena pohon pala yang berasal dari Fakfak (biasa disebut dengan pala papua) berbeda dengan pohon pala yang tumbuh di Banda maupun Bogor. Bentuk buah pala dari Fakfak agak lonjong dan lebih besar, rasa buah asam dan kurang sepat/sengar jika dibandingkan dengan pala Banda dan Bogor yang bentuknya bulat dan kecil rasanyapun lebih sepat/sengar.
Proses pengolahan produksi manisan pala maupun olahan lainnya umumnya masih dilakukan secara tradisional, tanpa bahan pengawet, dan mengandalkan panas matahari untuk penjemurannya. Walaupun manisan pala hasil produksi ibu-ibu tersebut pemasarannya masih berkisar di dalam kota Fakfak namun sebenarnya sudah banyak dinikmati oleh masyarakat di luar kota Fakfak. Hal ini dikarenakan banyaknya para tamu maupun warga Fakfak sendiri yang membeli manisan dan olahan daging pala lainnya untuk dijadikan sebagai oleh-oleh dari kota Fakfak
Pada awalnya, permasalahan yang dihadapi oleh ibu-ibu yang memiliki usaha industri manisan pala tersebut antara lain: belum memiliki nomor ijin Produksi Pangan (P-IRT) dari Dinas Kesehatan, masalah pengemasan yang belum memenuhi standart Kesehatan serta masalah pemasaran. Kini, permasalahan tersebut sudah mulai terjawab dengan pelaksanaan kegiatan “Pelatihan Keamanan Pangan Bagi Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) Dalam Rangka Sertifikasi Produksi Pangan” atas bantuan dana dari program PcDP – UNDP

Sumber : Fakfak & Pala 
KABUPATEN FAKFAK

KABUPATEN FAKFAK

Kabupaten Fakfak adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di kota Fakfak. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 38.474 km² dan berpenduduk sebanyak 50.584 jiwa (2000). Kabupaten ini terkenal dengan hasil buah palanya sehingga dijuluki sebagai "Kota Pala" Kabupaten Fakfak merupakan salah satu kota tertua di Papua, dengan peradaban yang tinggi. Mayoritas penduduknya beragama Islam, dan Protestan, Katholik;  tingkat asimilasi dengan dunia luar sangat tinggi sejak lama (sebelum penjajahan Belanda). Di Kabupaten Fakfak terdapat masjid2 tua peninggalan abad ke-17, salah satunya adalah masjid Patambura yang terletak di Kecapatan Kokas. Hal ini menunjukan bahwa Agama Islam telah mesuk ke Papua sebelum abad ke-17, sebagain ahli memprediksikan bahwa telah masuk sejak abad ke-15. Sebuah sistem tatanan kehidupan masyarakat asli Fakfak, sejak kontak dengan peradaban Islam memberikan pengaruh yang luar biasa, sehingga pandangan hidup masayarakat Fakfak sangat agamis.
MASJID WERTUAR

MASJID WERTUAR

Masjid ini pertama kali dibangun tahun 1870 Masehi oleh Raja Weruar ke-7 yaitu Raja Semempes. Pembangunan masjid di lanjutkan oleh Raja Waraburi. Masjid ini pertama kali direnovasi pada tahun 1942 dengan mengganti atap rubai dengan seng gelombang, tahun 1963 mengganti dinding denga tembok Rabik, tahun 1995 dilakukan perbaikan oleh Dep Dik Bud Irian Jaya dengan mengganti atap seng. 

Bentuk bangunan masjid ialah segi delapan beraturan (Octagonal), berukuran 3,13 meter disetiap sisinya. Sisi sebelah barat berfungsi sebagai mighrab, sedangkan penampil yang lain berfungsi sebagai serambi. Penampil sisi Utara, Timur, dan Selatan berfungsi juga sebagai pintu masuk keruang Utama Masjid. Ukuran serambi masing-masingpanjang 2,18 mter dan lebar 2,5 meter. Ruang utama masjid terdapat empat tiag dari kayu Berukuran 20 x 20 centimeter dengan tinggi 5,70 meter, berdiri pada umpak batu setinggi 30 cm. Atap masjid terdiri dadri 3 tingkat, atap paling bawah menyatu dengan atap keempat serambi masjid. Atap bagian tengah dibuat secara melingkar karena bentuk dindingnya persegi delapan. Atap paling atas berbentuk melingkar dan semakin keatas semakin meruncing. Pada tembok antara atap tiang kedua dan ketiga terdapat empat buah jendela tanpa daun jendela. Masjid ini teletak di Desa Patimburak, Distrik Kolas, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Irianjaya Barat. Masjid ini merupakan benda cagar budaya yang dilindungi oleh undang- undang.

Sumber: Direktori masjid Bersejarah

Departemen Agama RI
Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam
Direktorat Urusan Agama Islam dan pembiaan Syari’ah
Jakarta tahun 2008

PANORAMA ALAM PANTAI CEMARA

 DESA WERI KECAMATAN FAKFAK TIMUR, KAB. FAKFAK

Desa Weri merupakan ibu kota Distrik Fakfak Timur, kabupaten Fakfak. Memiliki keindahan alam yang sangat menawan. Kita bisa mencapainya dengan menggunakan long boat kurang lebih 90 menit dari kota Pala, Fakfak.







Eksotika yang membuat hati nyaman, membayar lelahnya perjalanan yang ditempuh dengan jarak berjam-jam. Desa Weri merupakan kawasan yang sangat indah bila dijadikan tempat wisata. Namun hal ini belum tercapai karena jaraknya yang agak jauh dari kota Pala Fakfak. 






Pantai pasir putih yang panjangnya kurang lebih 1 km dengan dihiasi pohon cemara dan pohon kelapa sungguh menentramkan hati.




Jika saya sedang berlibur, tak ada tempat lain yang membuat saya  merasa nyaman selain menyusuri pantai yang indah dan sejuk ini..


 




Ketika libur semester tiba, desa ini dipenuhi dengan anak-anak desa yang melanjutkan sekolah di kota, dan salah satunya adalah saya sendiri. Dengan sedikit bekal yang saya miliki, saya ingin sekali menunjukan betapa indahnya desa saya ini.
Sunset, inilah yang tak ingin saya lewatkan bersama teman-teman. Tetapi sayangnya ketika saya sampai, kondisi cuaca kurang mendukung untuk melihat indahnya matahari terbenam di ujung laut…








Sumber : Julius-Inri

SEJARAH FAKFAK

Masa Pemerintahan Belanda

Pada Masa Pemerintahan Kolonial Belanda di West Nieuw Guinea (Irian Barat/Irian Jaya/tanah Papua sekarang) pada Tahun 1898 dibagi 2 afdeeling (karesidenan) yaitu :
* Afdeeling Noord Nieuw Guinea yang berkedudukan di Manokwari.
* Afdeeling West en Zuid Nieuw Guinea yang berkedudukan di Fakfak.
Fakfak di pilih karena letaknya di tepi/Teluk kecil yang dilindungi 0leh sebuah pulau dan dikelilinggi oleh bukit-bukit.

Pada tanggal 10 Mei 1952, Gubernur Van Waardenburg mengadakan perubahan wilayah menjadi 4 afdeeling yaitu :
* Afdeeling Noord Nieuw Guinea dengan ibukota Hollandia
* Afdeeling Zuid Nieuw Guinea dengan ibukota Merauke
* Afdeeling Centraal Nieuw Guinea dengan ibukota sementara Enarotali
* Afdeeling West Nieuw Guinea dengan ibukota Sorong


Khusus Afdeeling West Nieuw Guinea membawahi 9 onderafdeeling yaitu: Sorong, Makbon, Raja Ampat, Manokwari, Ransiki, Wandamen, Ayamaru, Bintuni dan Fakfak.

Pada Tahun 1961, pembagian wilayah di Nieuw Guinea diubah menjadi 6 afdeeling yaitu, Hollandia, Geelvinkbaai, West Nieuw Guinea, Fakfak, Zuid Nieuw Guinea dan Centraal Bergland.

Afdeeling Fakfak membawahi 3 onderafdeeling yaitu Fakfak, Kaimana dan Mimika

Masa Pemerintahan Republik Indonesia

UU NO. 12 Tahun 1969 Tentang Pembentukan Propinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-Kabupaten Otonomi Di Propinsi Irian Barat.

Pada Tahun 1996 Mimika menjadi kabupaten sendiri dan pada Tahun 2004 Kaimana juga menjadi kabupaten sendiri.

Dengan semangat UU No. 22 Tahun 1999, terbentuklah Kabupaten Sorong Selatan, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama.
Sumber : IKMAFA BLOG

KABUPATEN FAKFAK - PAPUA BARAT

Jika anda akan melakukan perjalanan ke bagian timur Indonesia, jangan lupa untuk mampir ke Kota Fakfak yang merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Papua Barat. Fakfak saat ini mungkin lebih dikenal sebagai kota penghasil buah pala, namun sebenarnya Fakfak memiliki hasil perkebunan lain seperti Kelapa, Kakao, Cengkeh, Jambu Mete dan Kopi serta hasil perkebunan lainnya. Dengan 9 Distrik yang dimilikinya, saat ini pemerintah Kabupaten Fakfak sedang berusaha membangkitkan ekonomi daerahnya dengan membangun sebuah kota baru yang direncankan akan menjadi pusat perekonomian Fakfak yaitu Kawasan Bomberay. Di kawasan itu nantinya akan dibangun lapangan terbang ber-taraf internasional sehingga transportasi akan semakin lancar sebagai modal untuk membangkitkan perekonomian di Fakfak.
Di bidang Pariwisata, Fakfak memiliki potensi pariwisata yang dapat dikembangkan dan menjadi objek wisata yang dapat menarik wisatawan antara lain seperti Goa Jepang yang berada di Distrik Kokas, sekitar 44 Km dari Kota Fakfak. Goa Jepang merupakan salah satu basis pertahanan tentara Jepang pada saat perang dunia ke-2 berlangsung ketika melawan tentara sekutu. dan menawarkan pemandangan yang Indah untuk dinikmati dari ketingian puncak gunung di Kokas.

Pemandangan dari atas Bukit Pertahanan Jepang di distrik Kokas, Kab. Fakfak / @kelanakecil


 Pelabuhan Laut Fakfak

Namun demikian anda pun harus bersiap-siap karena kota Fakfak sendiri terletak di atas perbukitan dan sudah tentu lapisan tanahnya adalah batu-batu karang yang keras sehingga janganlah heran jika pada musim kemarau, anda akan kesulitan air. Saya terpaksa harus mencuci ke sungai terdekat yang jaraknya sekitar 8 sampai dengan 9 Km. Demikian juga dengan listrik dimana ada saat-saatnya dimana listrik padam secara bergiliran, sunggguh sangat ironis jika anda adalah seorang yang senang menggunakan alat-alat elektronik karena alat-alat elektronik anada akan lebih banyak menganggur.

Cuaca di Fakfak jika pada siang hari cukup panas berkisar sekitar 30-32 derajad Celcius sedangkan pada malam hari cuaca cukup dingin. Masyarakat di Fakfak terdiri dari masyarakat asli Fakfak dan masyarakat pendatang antara lain berasal dari Seram, Ternate, Ambon, Kepulauan Kai, Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan lain sebagainya. Pada umumnya masyarakat Fakfak sangat ramah terhadap siapapun yang datang di Fakfak, hal ini sudah berlangsung lama, oleh karena itu sejalan dengan semangat masyarakat Fakfak adalah "Satu Tungku Tiga Batu" (Satu hati, Satu saudara).

Anda yang akan datang ke Kota Fakfak jika berangkat dari sebelah barat Indonesia dengan jasa pesawat terbang, anda bisa transit di Ambon dan dari Ambon meneruskan perjalanan menggunakan pesawat Wings, Ekspress ataupun Merpati. Jika anda dari arah timur, dapat transit di Ambon. Jika anda menggunakan jasa transportasi laut anda bisa menggunakan kapal laut KM. Nggapulu, KM. Tatamailau dan KM. Ciremai.


Salah satu tempat wisata keluarga di Kp. Air Besar
Kabupaten Fakfak
 
Salah satu alat tranportasi udara di Bandar Udara Torea, 
Kabupaten Fakfak
 
Salah satu kapal yang masuk ke Pelabuhan Fakfak
Demikian gambaran singkat tentang Kota Fakfak Kota Pala, semoga bermanfaat bagi anda yang memiliki hobby traveling.

R35a.
Sumber : Blog INFO ANDA