Orang-Orang Mbaham-Matta dan Masa Depan ‘Kota Pala’

Orang-Orang Mbaham-Matta dan Masa Depan ‘Kota Pala’ Sebuah Catatan Perjalanan Di Fakfak – Kota Pala Tanah Papua

Sebuah perjalanan menuju Fakfak yang sejak lama dikenal dengan julukan ‘Kota Pala’ di Tanah Papua. Tanggal 16 Juni 2012, saya berangkat dari Manokwari menggunakan jasa penerbangan pesawat Wings/Lion Air menuju Fakfak melalui Kaimana. Penerbangan Manokwari ke Kaimana memakan waktu 50 menit di udara, transit 1 jam dan melajutkan perjalanan lagi dengan pesawat yang sama menuju Fakfak dengan menempuh waktu 40 menit. Cuaca yang cerah pada perjalanan ini sangat memungkinkan untuk menikmati pemandangan indah Tanah Papua. Hutan, laut dan sungainya yang indah.

Perjalanan ke Fakfak ini dengan tujuan menghadiri kegiatan Dewan Adat Papua wilayah Empat (4), DA-Mbaham Matta yang telah menetapkan waktu yang tepat untuk melaksanakan Rapat Kerja dan Evaluasi keberadaan dan peran kelembagaan berbasis adat ini di Fakfak. Kegiatannya baru akan terlaksana tanggal 18 – 20 Juni 2012 di Hotel Grand Papua (HGP) Fakfak, tetapi karena sulitnya akses transportasi udara, maka panitia pelaksana meminta saya untuk berangkat dari Fakfak sesuai jadwal penerbangan 16 Juni 2012.
Ketika tiba di HGP Fakfak, di sana sudah ada Leo Imbiri (Sekjen Dewan Adat Papua) dan Fadhal Alhamid (Ketua II DAP) yang baru saja tiba juga dari Jayapura dan Macx Binur (Direktur Belantara Papua) dari Sorong. Genaplah sudah karena tambah saya, Pietsau Amafnini (Koordinator JASOIL Tanah Papua) dari Manokwari. Anehnya, mengapa saya bersama Macx dihadirkan? Panitia menghubungi kami untuk mengambil peran dalam proses Musyawarah Adat ini karena mereka tidak dapat memastikan kehadiran Abdon Nababan (Sekjen AMAN) di Jakarta dan Decky Rumaropen (Direktur YPMD) di Jayapura. Akhirnya, atas pertimbangan panitia, Abdon Nababan bisa digantikan dengan saya, Pietsau Amafnini dan Decky Rumaropen digantikan oleh Macx Binur. Semuanya tentu mempunyai peran dan fungsi masing-masing dalam pertemuan berwibawa ini. Namun, sebenarnya kehadiran kami berempat dari luar Fakfak, tidak terlalu penting, karena orang Fakfak sendirilah yang seharusnya memahami apa yang disebut dengan ‘Kebangkitan Adat’ untuk menghadapi ‘Globalisasi’ yang datang sebagai ‘berkat peradaban’ dan sekaligus ‘bencana pembangunan’.
Tanggal 17 Juni 2012, hari minggu, kami mencoba untuk mengenal kehidupan sosial, ekonomi dan budaya Fakfak. Esau Rumere yang mempunyai peran di FOKER-LSM sebagai ‘SC’ dan juga mempunyai peran penting dalam musyawarah adat masyarakat Mbaham-Matta ini sebagai anggota panitia membawa kami untuk berkeliling di Kota Pala ini. Cuaca tak begitu bagus, tapi lumayan untuk mengenal sejumlah kampung yang terletak di daerah pantai dari distrik Fakfak Tengah hingga Fakfak Timur. Kondisi geografis Fakfak dimana jalan berlekuk, sempit dan diwarnai jurang kemiringan yang terjal serta tanjakan curam menjadi pengalaman tersendiri. Belum lagi hilir-mudiknya para pengendara kendaraan bermotor baik roda 2 maupun roda 4 yang berlomba-lomba untuk saling mendahului satu sama lain. Astaganaga!!! Sebuah kendaraan roda 4 hampir saja duduk manis diatas atap rumah penduduk.
Kami menelusuri kampung demi kampung, diantaranya Danaria, Kayu Merah, Katemba, Nemewikarya, Raduna, Brongkendik, Air Besar, Kanantare, Mendogma, Sakartemen, Pasir Putih, Pirma dan Wayati. Sebuah perjalanan observatif yang luar biasa. Lebih dahulu menikmati alam di Pasir Putih, melepaskan lelah dengan menikmati kesejukan alam di sekitarnya. Air laut yang tentu asin rasanya dan air tawar yang tentu jernih dan sejuknya bukan main. Hanya di sinilah sedikit ‘kolam’ pasir putih berada di antara hamparan bebatuan pipih (batu gamping) yang patah dan terjatuh dari tebing-tebing di sepanjang pantai oleh karena hantaman ombak angin selatan. Sekalipun ada papan bertuliskan, “Dilarang Mengambil Pasir Di Areal Pantai dan Sekitarnya” sebagai perhatian Kantor Badan Lingkungan Hidup terhadap potensi alam ini, namun tetap saja karung-karung berisi pasir putih bertumpuk di sepanjang jalan. Ternyata bagi masyarakat pemilik hak ulayat setempat, pasir putih sebagai tambang galian golongan ‘C’ ini cukup menjanjikan untuk pendapatan rumah tangga. Sayangnya tidak ada peraturan daerah yang mengatur tentang penambangan galian golongan ‘C’ ini.
Dari pantai Pasir Putih, kami ke kali (sungai) yang juga nama kampung Air Besar. Di sana ada kolam renang, berada di kaki gunung, memanfaatkan air alami dari gunung yang mengalir melalui Kali Air Besar ini. “Ini merupakan tempat rekreasi yang cocok bagi kelurga, bujangan, remaja dan anak-anak, nyaman dan sejuk”, kata pengelola aset wisata ini. Konon, menurut cerita, sebenarnya kolam renang ini merupakan aset pemerintah daerah Fakfak, tetapi karena tidak dikelola baik, maka kini dikelola oleh swasta. Masalahnya, di mana-mana yang namanya aset BUMD selalu saja terlantarkan, tidak terurus dan tidak menghasilkan “income” buat kas daerah. Padahal, dalam perencanaannya tentu selalu bertujuan untuk ‘income’ dan juga kesejahteraan masyarakat. Sialnya, tidak terurus.
Tidak hanya itu, masih ada Taman Anggrek di atas gunung. Nasibnya juga sama, tidak terurus. Padahal sudah berapa banyak kerugian pemerintah daerah dalam proses membangun kebun anggrek ini? Seorang tokoh adat, Simon Bruno Hindom menyatakan bahwa pemerintah hanya tahu membuat rencana dan membangun sesuai pikirannya, tetapi sesungguhnya tidak pernah sesuai dan menjawab kebutuhan rakyat. Mengapa Anggrek dan bukan Pala? Padahal orang Fakfak sudah sejak dahulu kala mengenal pohon pala dan menjadikannya sebagai sumber pendapatan keluarga. Bahkan Fakfak dikenal dengan sebutan Kota Pala di Tanah Papua, tetapi justru tanaman pala tidak mendapat kesempatan baik untuk dimanfaatkan sebagai tanaman identitas kabupaten Fakfak dan untuk meningkatkan ‘income’ daerah.
Sementara investasi skala besar di sektor perkebunan sawit dan juga pertambangan minyak dan gas bumi pun sudah semakin gencar melirik dan beraktivitas di bumi Kota Pala ini. Esau Rumere (SC-Foker LSM Papua) menegaskan bahwa “suatu saat Kota Pala ini akan lebih dikenal dengan Kota Migas. Sebab sudah ada sekitar 7 investor migas yang sedang dan akan melakukan kegiatannya di kabupaten Fakfak, diantaranya BP-Berau,ltd; Genting Oil,ltd; Murphy Semai Oil; HESS (Semai,ltd); PT. Suma Sarana; Chevron West Papua dan Eni Arguni,ltd. Persoalannya adalah bagaimana dengan nasib masyarakat adat ke depan? Apakah mereka sudah siap untuk menerima perubahan-perubahan ke depan?”.
Ketua I Dewan Adat Mbaham-Matta, Simon Bruno Hindom menyatakan bahwa ‘tanah adalah mama’ bagi kami, tetapi pemerintah telah mengizinkan berbagai macam investor untuk mengambil hasil bumi di Fakfak tanpa memintai persetujuan kami sebagai masyarakat adat pemilik hak atas tanah dan hutan tersebut. Hak-hak kami sudah dipindah-tangankan kepada pihak investor oleh pemerintah daerah tanpa melalui persetujuan dan sepengatahuan kami. Untuk itulah Kegiatan Rapat Kerja Tahunan dan Evaluasi Dewan Adat Mbaham-Matta Kabupaten Fakfak, Papua Barat Tahun 2012 ini sangat penting sebagai ajang musyawarah adat. Semoga mata hati kami sebagai masyarakat adat pun melalui musyawarah ini, dapat melihat, mendengar dan mengetahui berbagai macam informasi tentang perubahan-perubahan dan kecenderungan-kecenderungan yang sudah, sedang dan akan terjadi di Fakfak ke depan, sehingga kami mampu menghadapinya.
Pada akhirnya, semangat Dewan Adat Mbaham-Matta untuk terus mengabdi bagi negeri Tanah Papua terus berapi-api dalam semboyan bersama “Mbima Ponggodpigad Tondige Mbigyedke Syektangge’, (bhs.iha: “Kita adalah manusia pelaku maka kita sendirilah yang harus melakukan sesuatu sendiri”). Simon Bruno Hindom menegaskan terkait filosofi ini bahwa sebagai orang Mbaham-Matta janganlah kita menunggu dan terus menunggu datangnya perubahan itu dari luar untuk kesejahteraan hidup kita sendiri atau kita tidak boleh menunggu komando dari orang lain, melainkan seharusnya kita terus mencoba untuk berbuat sesuatu untuk membangun dan menata diri orang Mbaham-Matta di bumi Fakfak, Tanah Papua agar semakin hari terus berkembang menjadi baik adanya. Lebih dari itu, setelah mendengar, melihat dan merasakan berbagai persoalan terkait investasi yang semakin gencar menggepur dan mengepung hak-hak dasar orang Mbaham-Matta, maka kiranya melalui musyawarah adat yang dilakukan tahun 2012 ini, orang Mbaham-Matta dapat merancang dan melakukan sesuatu yang berharga untuk membangun masa depannya lebih baik, mempertahankan hak-hak dasarnya atas tanah, hutan, laut dan bahkan udara di bumi Fakfak, serta mampu memelihara keharmonisan hidup bersama di Kota Pala ini. “Kota Pala harus tetap dipertahankan sebagai identitas diri orang Mbaham-Matta, karena tanaman pala sudah sejak lama menyatu dengan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya orang Fakfak”, tegas Simon.
Pada tanggal 18 Juni 2012, merupakan hari pertama pelaksanaan musyawarah adat Mbaham-Matta di Hotel Grand Papua (HGP) Fakfak. Pada kesempatan ini, Bupati Fakfak, M. Uswanas dalam sambutannya menegaskan bahwa musyawarah adat Mbaham-Matta ini menunjukkan peran dan fungsi Dewan Adat dalam proses pembangunan kabupaten Fakfak. Sebab, suka atau tidak, kabupaten Fakfak sedang berada dalam proses pembangunan yang tentu sangat dipengaruhi pula oleh kuatnya arus globalisasi. Karena itu, globalisasi tersebut juga sangat menuntut peran semua pihak terkait, baik pemerintah dan masyarakat adat, maupun pihak pelaku usaha di semua sektor pembangunan. Bupati Fakfak meminta supaya masyarakat adat Mbaham-Matta melalui musyawarah ini, dapat merumuskan masalah-masalah dan menyusun program kerjanya yang kemudian dapat disinergiskan dengan kebijakan dan program pemerintah. Leo Imbiri, Sekjen DAP juga dalam sambutannya terus menegaskan pentingnya peran masyarakat adat di seluruh Tanah Papua, termasuk Mbaham-Matta di Fakfak supaya berperan aktif dalam proses pembangunan. Leo Imbiri menjelaskan bahwa Orang Asli Papua selama ini terus berbangga bahwa memiliki status Otonomi Khsusu (OTSUS) sesuai UU No.21 Tahun 2001, tetapi perjuangan belumlah selesai, OTSUS sudah didapatkan, dimana pemerintah Indonesia setuju atas keberadaan masyarakat adat Papua di Tanah Papua. Namun, sebagai orang asli Papua, kita harus terus bekerja dan berusaha untuk membangun Tanah Papua.
Leo Imbiri menerangkan bahwa ada banyak contoh terkait kebijakan dan pelaksanaan pembangunan di Tanah Papua yang masih terus menempatkan posisi orang asli Papua sebagai penonton. Benar bahwa dalam tujuan pembangunan nasional maupun daerah, masyarakat adatlah yang menerima manfaatnya, namun yang terjadi adalah sekaligus menjadi korban dalam proses pembangunan itu. Hal ini juga sangat dimungkinkan oleh tidak atau belum adanya kebijakan yang secara jelas dan tegas memihak pada hak-hak masyarakat adat dan juga mengakui keberadaan masyarakat adat itu sendiri. Hal ini merupakan dilema seluruh masyarakat adat di Indonesia, termasuk di Tanah Papua pada umumnya dan juga di Fakfak pada khususnya.
Dalam upaya memahami kondisi masyarakat adat di seluruh Tanah Papua yang justru berkembang semakin buruk, maka atas dasar pemikirannya tentang status OTSUS bagi Papua, pihaknya juga terus bertanya, “adakah pejabat seperti bupati dan gubernur yang nota bene adalah orang asli papua yang peduli dan berpihak pada hak-hak masyarakat adat di Tanah Papua? Sebab, kalau dalam kebijakan pembangunan, pemerintah daerah terus menunggu dan bekerja berdasarkan perintah kebijakan dari Jakarta, maka sesungguhnya yang akan terus terjadi adalah kekacauan dan kemiskinan.” Selanjutnya Leo juga menegaskan kepada pemerintah bahwa “membantu masyarakat adat, tidak berarti hanya melihat berdasarkan bidang-bidang program pembangunan, tetapi mengakui keberadaannya dari hati dan itu harus dinyatakan dalam kebijakan atau aturan juga; bukannya memberikan sesuap nasi, terus bilang itu sudah cukup”.
Harapan dari Leo selaku Sekjen Dewan Adat Papua untuk seluruh Tanah Papua, yang berpusat di Jayapura adalah dengan adanya musyawarah ini, masyarakat adat Mbaham-Matta dapat merumuskan keputusan-keputusan penting entah berupa program maupun rekomendasi supaya memulai membangun dirinya sendiri, agar mencapai tujuan kebersamaan dengan berjuang untuk menjadi tuan di negeri sendiri, Kota Pala, Tanah Papua.*** Koordinator JASOIL Tanah Papua

Sumber : Pusaka

Orang Mbaham-Matta di Fakfak-Kota Pala

 Dewan Adat Mbaham-Matta cukup eksis dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat setempat atas tanah, hutan, laut dan hak-hak lainnya. Dewan Adat Mbaham-Matta Fakfak pun terus berusaha untuk memelihara keharmonisan dan kedamaian di daerah ini. Impiannya tetap menjaga aroma bunga pala menjadi ciri khas kabupaten Fakfak, karena pala sudah menjadi jenis tanaman yang membudaya dan tak dapat terpisahkan dari kehidupan orang Fakfak.

Fakfak merupakan salah satu wilayah kabupaten di Provinsi Papua Barat, Tanah Papua. Kabupaten ini sejak dulu sangat terkenal dengan julukan Kota Pala karena memang hanya di daerah yang sangat potensial dengan batu gamping inilah, sangat cocok untuk budidaya pala. Selain itu hanya di kota inilah dapat nampak keharmonisan keberagaman segala suku bangsa dimana komunitas orang asli Papua seperti Suku Besar Mbaham dan Suku Besar Matta yang mendiami gunung-gunung terjal hingga pesisir pantai ini sejak lama hidup berdampingan dengan komunitas suku-suku lain dari luar Tanah Papua. Keragaman budaya ternyata bukanlah halangan untuk kebersamaan, dan hal itu terbukti di Fakfak. Bahkan ketika masuknya agama Islam maupun Nasrani (Katolik dan Protestan), justru lebih memperkaya keragaman itu. Tidak pernah terjadi perselisihan oleh karena berbagai perbedaan. Harmonis memang, seindah bunga pala.
Secara Geografis Kabupaten Fakfak terletak diantara 131o 53 03 – 133o 29 19 BT dan 2o 30 58 – 3o 57 51 LS, luas wilayahnya adalah 14.320 Km2. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kaimana, di sebelah barat berbatasan dengan Laut Seram dan Teluk Berau, di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Bintuni, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arafura dan Kabupaten Kaimana, wilayah ini terbagi atas 9 distrik (kecamatan) dan 7 kelurahan.
Komoditi unggulan Kabupaten Fakfak yaitu sektor perikanan, Perkebunan dan jasa. Sub sektor peikanan komoditi unggulannya adalah perikanan tangkap, Sub sektor perkebunan komoditi yang diunggulkan berupa kakao, karet, jambu mete, Kelapa dan cengkeh. Pariwisatanya yaitu wisata alam, wisata adat dan budaya. Namun sesungguhnya dalam sejarah keberadaan Fakfak, komoditi unggulan yang terkenal adalah pala sehingga menyandang julukan Kota Pala. Pada tahun 2010 dengan luasan lahan sekitar 4,623 ha kebun rakyat, produksi pala mencapai 1,292 ton. Sayangnya harga pasar belum terlalu menjamin keuntungan bagi masyarakat adat setempat. “Kami orang Mbaham-Matta di Fakfak sejak dari dulu, zaman moyang, sudah mengenal pohon pala dan telah menyatu dengan kehidupan kami, sehingga kami sulit untuk menyesuaikan diri dengan jenis tanaman lain, apalagi sawit”, demikian kata Ema Hegemur aktivis Dewan Adat Mbaham-Matta ini.
Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di kabupaten ini tersedia 1 bandar udara yakni Bandara Torea, Untuk transportasi laut tersedia 1 pelabuhan yakni Pelabuhan Fakfak. Akses transportasi sudah tidak sulit, karena ada hubungan laut dan udara. Pelabuhan laut Fakfak juga merupakan salah satu pelabuhan di Tanah Papua yang selalu disinggahi oleh kapal-kapal PELNI. Sedangkan hubungan udara pun tersedia jasa Lion/Wings Air, Express Air dan Merpati perintis nusantara. Sebelumnya layanan Susi Air juga masuk Fakfak, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Sayangnya, gampang masuknya, susah keluarnya. Sekali kandas di Fakfak, terasa enggan untuk pergi darinya.
Orang Mbaham-Matta di wilayah Fakfak menggunakan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, namun sesungguhnya mereka pun memiliki bahasa lokal sendiri yakni bahasa baham, iha, arguni dan karas. Namun demikian, bahasa dominannya adalah bahasa baham dan iha, karena kebanyakan orang dapat berkomunikasi dan memahaminya. Sayangnya, bahasa lokal orang Mbaham-Matta sudah hampir terlupakan senasib dengan harumnya bunga pala yang semakin memudar.
Daerah ini pun ternyata sangat potensial untuk pengembangan sektor parawisata. Lautnya yang indah, pantainya yang indah dimana sebaran bebatuan pipih yang dihiasi hamparan pasir putih memantulkan alam hijau yang indah menghiasi pemandangan kota Fakfak dan sekitarnya. Sejuknya udara di kawasan ini sangat menjanjikan bagi siapapun yang datang ke tempat ini. Sekali menginjakkan kaki di Fakfak Kota Pala, anda terasa enggan untuk minggat darinya. Indah nan menawan. Sayangnya potensi alam ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah untuk dikembangkan menjadi obyek wisata yang bernilai ekonomis bagi daerah dan juga masyarakat setempat.
Bagi peminat air tawar, tersedia potensi “Kali Besar” di distrik Fakfak Tengah dimana ada jasa kolam renang. Rasakan dan nikmati dingin dan sejuknya air kolam yang langsung turun dari gunung. Hmmmm, jernih dan sejuknya bukan main. Konon, kolam renang ini merupakan aset Pemda Fakfak, tetapi karena pengelolaannya tidak beres, maka sekarang dikelola oleh swasta. Setiap hari banyak pengunjung, apalagi hari-hari libur, banyak kaum muda maupun tua, bahkan keluarga memanfaatkan potensi ini sebagai tempat rekreasi. Sebelum mandi air tawar di kolam ini, jarak dari pantai pun tak jauh. Mandi air laut sambil menikmati pasir putih di tengah hamparan bebatuan pipih yang indah. Menikmati bunyi ombak yang berkali-kali mengamuk di dinding-dinding bebatuan itu. Pokoknya, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Sayangnya tempat rekreasi ini pun tidak terurus, walaupun ada papan larangan dari Badan Lingkungan Hidup di situ. Pasir putih tetap menjadi obyek dagang bahan tambang galian golongan C – yang masih terus lancar dimanfaatkan tanpa pengaturan dari pemerintah daerah setempat.
Sementara dari bebukitan kota Fakfak, dapat menyaksikan panorama Pulau Panjang yang katanya berstatus Hutan Lindung. Pulau panjang ini mempunyai fungsi secara alamiah untuk melindungi kota Fakfak dari ancaman ombak angin selatan. Sayangnya, kondisi hutan di Pulau Panjang semakin memprihatinkan, tampak kebotakan sana-sini karena pemanfaatan untuk kebun oleh masyarakat yang mendiami pulau itu. Pemukim di pulau ini, sebenarnya berstatus bekas karyawan sebuah perusahan kayu ternama di Fakfak yang sekarang tidak beroperasi lagi. Perusahan sudah pergi meninggalkan Fakfak, tetapi karyawannya masih tertinggal dan menetap di situ. Mereka ingin pergi juga meninggalkan Fakfak menyusuli majikannya, tetapi sejak beroperasinya perusahaan hingga kepergiannya, tidak ada kompensasi bagi masyarakat adat pemilik hak ulayat. Sehingga, para eks karyawan perusahaan HPH ternama ini hanya bisa bertahan dalam ‘sanderaan’ oleh petuanan hak adat sampai harus kompensasinya terbayar. Tetapi entah kapan? Hanya Tuhan yang tahu.
Sekedar cerita, Masyarakat Adat Mbaham-Matta baru saja melaksanakan sebuah momment penting berupa Musyawarah dan Rapat Kerja kelembagaan sebagai Dewan Adat. Sejak terbentuknya pada tahun 2009, Dewan Adat Mbaham-Matta cukup eksis dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat setempat atas tanah, hutan, laut dan hak-hak lainnya. Dewan Adat Mbaham-Matta Fakfak pun terus berusaha untuk memelihara keharmonisan dan kedamaian di daerah ini. Maka, tanggal 18 – 20 Juni 2012, masyarakat adat Mbaham-Matta menggelar Rapat Kerja dan Evaluasinya sebagai ajang Musyawarah dimana menghasilkan berbagai hal penting berupa rancangan program kelembagaan dan berupa rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah daerah. Salah satunya adalah betapa pentingnya pelaksanaan prinsip-prinsip FPIC (free, prior, informed, consent) sebagai strategi menghadapi perubahan-perubahan yang nampak dari lancarnya rencana dan implementasi pembangunan sektoral seperti pertambangan dan perkebunan sawit yang telah mengepung wilayah ini. Posisi masyarakat adat pun semakin terjepit, lahan pun semakin sempit, bahkan sumberdaya hutannya pun semakin menipis. Sehingga konkretnya adalah Dewan Adat Mbaham-Matta akan melaksanakan pendokumentasian sejarah silsilah orang Mbaham-Matta baik suku maupun marga serta mendokumentasikan tanah-tanah adat melalui pemetaan partisipatif sebagai sebuah strategi pertahanan dan upaya melindungi hak-hak atas tanah milik komunitas marga maupun suku-suku yang berada di Fakfak sesuai sejarah keberadaannya.
Adapun rekomendasi kepada pemerintah untuk meninjau ulang izin-izin konsesi HPH dan juga menerbitkan peraturan daerah yang mengakui dan melindungi hak-hak adat orang Mbaham-Matta atas tanah, hutan dan laut, bahkan udara. Sayangnya, apakah orang Mbaham-Matta akan mampu bertahan terhadap arus globalisasi yang terus membawa investor ke daerah ini? Terima atau tidak, jelas bahwa sejumlah perusahaan pertambangan migas telah mengantongi izin untuk beroperasi di Fakfak, termasuk perkebunan sawit. Akibatnya aroma Fakfak-Kota Pala pun terancam hilang. Mbaham-Matta pun diharapkan tak akan terpecah hanya karena perubahan-perubahan di zaman ini akan memisahkan orang Fakfak dengan orang Kokas. Sebab, ditengah kesibukan Mbaham-Matta menata kelembagaannya di Hotel Grand Papua pada 18 – 20 Juni 2012, di saat yang sama pula proses politik pemekaran wilayah Kokas untuk menjadi satu kabupaten baru di provinsi Papua Barat pun tengah berjalan, dan berdampak pula pada proses musyawarah hari terakhir dimana keputusan-keputusan penting dan berwibawa demi masa depan orang Mbaham-Matta harus menjadi prioritas perhatian dari sekitar 600 orang peserta yang memadati forum berwibawa ini. Akhirnya, kita hanya bisa berharap semoga Mbaham-Matta tetap bersatu untuk menata masa depan di tengah arus gelombang kepungan investasi di Tanah Papua.*** Koordinator JASOIL Tanah Papua

Kodim 1706 Fakfak Gelar Latihan Menembak

Fakfakinfo.com_ Kodim 1706 Fakfak menggelar latihan menembak selama dua hari (27-28 Juni 2012) di area hutan yang dikenal dengan sebutan Kali Mati. Latihan ini diikuti oleh seluruh anggota Kodim 1706 Fakfak, serta diikuti oleh anggota kepolisian Resor Fakfak.
Latihan menembak kali ini juga mengundang pejabat Pemda Fakfak yang dalam hal ini dihadiri oleh Sekda dan Kepala Dinas Perhubungan Fakfak, Ketua Pengadilan Negeri Fakfak serta Pimpinan BRI dan Bank Mandiri.
Dan untuk kali pertama, latihan menembak ini mengundang perwakilan wartawan, yang diwakili oleh Ketua DPC Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Kabupaten Fakfak serta Salmon T, anggota PWI Fakfak.
Komandan Kodim 1706 Fakfak, Letkol Inf. Darwis Efendi menjelaskan bahwa, latihan menembak bagi anggota TNI khususnya anggota Kodim adalah wajib.
“Ini adalah latihan wajib bagi anggota Kodim. Latihan ini telah menjadi program tetap. Tujuan latihan menembak bagi anggota TNI adalah untuk mempertajam naluri keprajuritan, sebagai benteng pertahanan NKRI,” jelas Darwis Efendi.
Senada dengan penjelasan Dandim, Kasdim 1706 Fakfak, Mayor Inf. Slamet Supriyanto menambahkan bahwa, dengan latihan menembak secara rutin, juga dimaksudkan guna merawat peralatan tempur secara kontinyu.
“Kalau dipakai secara rutin, tentu persenjataan akan terpelihara dengan baik. Jika lama tidak digunakan, persenjataan malah mudah rusak.” Ujar Slamet Supriyanto.
Dalam latihan menembak yang dibagi dalam dua kategori ini, Kodim 1706 Fakfak menurunkan belasan pucuk senjata laras panjang M-16 dan pistol FN kaliber 45 dan 46. Sedangkan Kapolres Fakfak, AKBP Rudolf Michael yang diikuti beberapa anggotanya, mempergunakan revolver kaliber 38 dan senjata serbu laras panjang SS-1.
Meski latihan menembak ini dilaksanakan di tepi jalan Fakfak – Kokas yang relatif ramai, lalu lintas tidak terganggu. Bahkan latihan menembak tersebut menjadi tontonan bagi pelintas jalan. (wah)
Sumber : FAKFAK INFO
Taman Alami yang Tersembunyi Dengan Rapi

Taman Alami yang Tersembunyi Dengan Rapi

Wersuri: Taman Alami yang Tersembunyi Dengan Rapi (WPC 6)


13383094111423904384

Wersuri, terletak di Kampung Tarak, Fakfak, Papua Barat.
Pagi ini bapak angkatku terlihat sibuk berjalan mondar-mandir dari rumah ke tepi pantai.
“Bagaimana Pace?”, aku membuka suara.
Kitong jalan sudah, cuaca bagus hari ini.”, Bapak angkatku melangkahkan kakinya menuju perahu.
Hari ini adalah hari yang dijanjikan oleh bapak angkatku untuk mengajakku memasuki daerah Nusa Lasi, sebuah area kosong tanpa penduduk yang katanya ada pulau-pulau kecil, kemudian dikelilingi manggi-manggi (bakau), di seberang pulau Tarak, Fakfak.
Perjalanan pun dimulai. Kami menggunakan pok-pok (ketinting) yang biasa dipakai bapak untuk memancing. Haluan perahu tertuju ke Tanjung Merpati, aku bisa menebak, Bapak pasti mau ber-“hasa-hasa” atau menelusuri tepian daratan di atas perahu.
Ketakjubanku dengan alam Papua yang benar-benar mempesona tak pernah habis. Setiap kali menyeberang di atas laut, aku terus berdecak kagum atas anugerah Tuhan di sini. Hutan yang rimbun, pantai yang berpasir putih, dan kekayaan laut yang melimpah menunjukkan betapa kayanya negeriku.
Setelah melintasi Tanjung Merpati, perjalanan dilanjutkan. Kami kembali menyambangi Batu Lubang, goa alami yang berada tepat di tepi Laut Seram dengan air birunya. Goa penuh misteri, bersejarah, dan stalaktit serta stalakmitnya yang sangat memukau.

Batu Lubang tampak dari depan, goa misterius di Kampung Tarak,
Bagian dalam Batu Lubang
Bagian dalam Batu Lubang
Bapak terus merajukku dengan menggerakkan perahu menyisir tebing. Gradasi warna laut dari hijau muda, hijau tua, kemudian biru laut memaksaku untuk tak henti menekan shutter kamera. Menatap tebing tegak yang menjulang kemudian langsung berhadapan dengan laut, membuatku membatin, “inilah negeri sepenggal surga”.
1338312260406419594
Bapak membawa haluan ke tepi tebing
Pulau-pulau kecil sudah tampak, inilah daerah Nusa Lasi. Nusa Lasi menjadi bagian pulau-pulau kecil lainnya yang berkelompok, di sebelah selatannya ada gugusan pulau Nusa Karaf, kemudian pulau-pulau cantik di Nusa Teri.
Perahu kami terus melaju ke arah manggi-manggi (bakau), kemudian masuk ke sebuah celah.
Pulau-pulau kecil di Nusa Lasi
Pulau-pulau kecil di Nusa Lasi
Wow!
Di depanku sudah terpampang garis air laut yang mirip sungai karena di sebelah kanan dan kirinya di kelilingi bakau. Saat kita berada tepat di pintu celah ini, seekor burung rangoon tiba-tiba terbang cukup rendah dengan bunyi kepak sayap yang sangat berat.
Terkejut, namun aku juga menggelengkan kepala karena alam yang kusimak ini benar-benar menyuguhkan perasaan yang tak ternilai. Kenikmatanku ini tersadar saat bapak mengingatkanku untuk mengangkat kamera, mengejar gambar burung rangon.
13383133221619038042
Burung Rangoon, sayang agak shaking dan tele belum terbeli
Burung Rangoon, sayang agak shaking dan tele belum terbeli
“Pak guru, ini dia Wersuri, di tebing di atas itu ada cerita lagi. Kalau kitorang bilang ‘nenek, pukul tifa dulu, kau pu cucu mau dengar’ nanti akan terdengar suara dug..dug..dug… bunyi tifa betulan.”, kata bapak sambil menunjuk ke arah tebing putih di depanku.
Celah Wersuri ini mirip dengan daerah Fuduning yang pernah kutuliskan, di dalamnya memiliki celah-celah lagi yang menyerupai labirin. Namun, vegetasi terbanyak di sini bukan hanya bakau, melainkan pohon nipah juga menyeruak di setiap sudut labirin yang kita lintasi.
Uniknya, pohon nipah ini berjejer dengan jarak yang seolah sudah ditentukan, kemudian tepat di bawahnya dikelilingi tumbuhan-tumbuhan kecil yang juga sudah tersusun dengan rapi.
1338314547505500309
Vegetasi alami yang tertata rapi
Komposisi alami
Komposisi alami
Pace, apakah tumbuhan-tumbuhan ini memang sengaja di atur saat menanamnya?”, tanyaku.
Tara da. Dari dulu begini sudah. Sejak kitorang pu orang tua. Alam di sini tak terjamah pak guru.”, kata Bapak sambil mengarahkan kemudi perahu.
Aku terus menelan ludah dan tak henti bersyukur menikmati lukisan alami ini. Wersuri, dengan anggun menyerupai taman rekreasi yang tersembunyi. Dan di sudut khatulistiwa ini, ternyata masih ada lokasi yang tak terjamah namun secara alami tersusun dengan rapi.
Perahu akhirnya berputar untuk kembali ke celah yang membawa ke arah “pintu keluar”. Bapak menggerakkan perahu dengan lincah, menerobos di bawah dahan dan daun nipah yang menggantung di atas air.
“Pace, saya su lapar ini, mama tadi bawa bekal to?”, tanyaku merengek.
“Kitong masuk celah di depan, kitong makan di atas perahu sudah.”, kata bapakku.


Sumber : Arif. L. Hakim