Papua dan Papua Barat jadi Sasaran Trafficking

ilustrasi (google)
Menteri  Pemberdayaan Perempuan  dan Perli­n­dungan Anak, Yohana Yembisa  mengungkapkan kasus trafficking dimana   wanita-wanita cantik dijual masih marak terjadi di tanah air. Dan menurutnya selama ini dari perdagangan wanita-wanita cantik itu   banyak yang diselundupkan ke Papua dan Papua Barat.

Yang sangat memprihatinkan, dari wanita yang jadi korban trafficking itu umumnya  gadis-gadis dibawah umur yang sengaja didatangkan dari luar  kota. Kondisi inilah yang  menurut Menteri Yohana Yembise  akhirnya berbuntut menjadi salah satu pemicu terjadi­nya kehancuran rumah tangga  dan berbuntut adanya kekerasaan yang dialami wanita serta anak.

 Selain itu, penyebab timbulnya kekerasaan dalam rumah tangga (KDRT) yang angka kasusnya sangat tinggi di Papua dikarenakan peredaran minuman keras (miras) yang dinilainya  sangat rentan. Lebih lanjut, Yohana yang ditemui di ruang VIP Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong  kemarin (5/3) mengatakan, menindaklanjuti  informasi yang diterimanya, bahwa banyak gadis-gadis cantik dibawah umur asal Manado, Sulawesi Utara  yang dikirim ke Papua dan Papua Barat untuk dipekerjakan sebagai ladies di tempat hiburan malam (THM),  Ia pun berencana akan bertandang ke satu daerah yang disebut sebagai pensuplai gadis-gadis cantik yang dijual ke Papua.

Ia akan memanggil pejabat dan pihak-pihak terkait guna mengambil langkah tegas dalam menghentikan sindikat perdagangan wanita dari kota itu. Karena, pihak terkait terutama pejabatnya harus mampu memberdayakan perempuan didaerah tersebut  agar tidak bekerja dan diperdagangan oleh oknum-oknum yang mencari keuntungan pribadi. Alasannya, wanita yang diperdagangkan  merupakan korban penipuan mulut manis para oknum penyelundup manusia.
“Yang menganggu rumah tangga kita di sini (Papua Barat,red), terutama menganggu bapak-bapak,”ungkap Yohana. 
Menyikapi tingginya kasus  kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), menteri asal Papua ini mengaku akan menerapkan program dengan membentuk tim satuan petugas (Satgas) di daerah. Tidak hanya di kota atau kabupaten, Satgas bentukan kementrian itu akan ditempatkan hingga di perkampungan dan pelosok. “Mungkin bisa membantu saya  sampai di kampung-kampung untuk melihat kejadian yang bisa terjadi dimana-mana, karena saya tidak mungkin melihat secara langsung ke level paling bawah (kampung,red),”katanya.

Data dari Satgas bentukan kementrian yang diterapkan di Papua dan Papua Barat itu akan dibahas dalam kementrian Pemberdayaan Perempuan di Jakarta. Ia juga menegaskan, kementerian  Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak akan membuat program aksi penolakan terhadap miras dan KDRT di Papua dan Papua Barat. “Saya akan atur dengan Badan Pemberdayaan Perempuan untuk turun ke jalan dalam mengeluarkan aspirasi sebagai bentuk desakan memberhentikan KDRT mau pun miras,”imbuhnya.

Menyikapi rentannya anak-anak menjadi korban pemerkosaan dan pencabulan, wanita dengan senyum ramah itu mengatakan, akan mengecek persoalan pemicunya. Diakuinya, kekerasaan seks terhadap anak juga mengalami peningkatan. “Ada data yang masuk ke saya juga, ada wanita yang menikah begitu saja, akhirnya suami lari dan wanita sama anaknya menjadi korban hingga menderita,”paparnya.

Pemicu maraknya kasus KDRT yang diawali dengan adanya perselingkuhan juga disebabkan karena jumlah perempuan di Papua dan Papua Barat hampir sama dengan jumlah laki-laki. Pemerintah akan meningkatkan anggaran untuk Badan Pemberdayaan Perempuan sebagai operasional dalam melancarkan programnya. “Supaya perhatian terhadap wanita dan anak bisa ditingkatkan sehingga sinergi dengan program kementerian,”lanjutnya.

 Kehadiran Menteri Yohana Yembise di Sorong setelah berkunjung ke Raja Ampat untuk memenuhi undangan Bupati Raja Ampat, Drs Marcus Wanma, M.Si dan istri  sebagai ketua penggerak PKK  dalam membuka kegiatan jambore di Raja Ampat. “Kegiatannya diikuti 1.115 perempuan dari 24 Distrik se Raja Ampat,”pungkasnya.(reg)
Sumber : Radarsorong

Terimakasih atas kunjungan anda di www.FAK-FAK.com , Silahkan berbagi :