Tim Menteri Susi Temukan Penjualan Burung Papua Lewat Kapal

Merauke - Tim Anti-Illegal Fishing Kementerian Kelautan dan Perikanan menemukan perdagangan burung endemik Papua. Tim yang dibentuk Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti itu menemukan hewan-hewan ini setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kampung Woegekel, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua.
Petugas menunjukkan burung Cendrawasih yang telah mati saat gelar kasus penyelundupan satwa langka di Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, 27 Februari 2015. Ratusan satwa langka yang akan diselndupkan tersebut ditemukan dari atas kapal motor (KM) Gunung Dempo dari Papua. TEMPO/Fully Syafi

Tim itu mengunjungi Ilwayam untuk mengecek kapal-kapal milik PT Dwikarya Reksa Abadi, PT Aru Samudera Lestari, PT Avona Mina Lestari, dan PT Antarticha Segara Lines. Di kawasan itu kapal-kapal yang beroperasi adalah milik keempat perusahaan tersebut.

Satwa-satwa tersebut dikirim saat kapal perusahaan itu mengirim ekspor ke Cina. Perwakilan PT Dwikarya di Ilwayam, Tomo Khusein, mengaku tidak tahu menahu soal pengiriman burung-burung tersebut.

Wakil Ketua Tim Anti-Illegal Fishing Yunus Husein mengatakan akan berkoordinasi dengan lembaga terkait seperti Kementerian Kehutanan dan kepolisian. "Untuk melihat nanti bagaimana, apakah masuk ilegal juga," katanya.

Penjualan satwa-satwa Papua lewat kapa itu sudah lama terjadi. Hendori, salah seorang penjual satwa, menuturkan, kebanyakan satwa yang dijual adalah burung kakak tua jambul kuning, burung beo, nuri, gagak dan buaya yang telah diawetkan. "Peminatnya orang-orang Cina," katanya saat ditemui Tempo di rumahnya pada Kamis, 16 April 2015.

Di rumah Hendori ada seekor kakak tua jambul kuning. Burung itu kurus dan bulunya sudah rontok. "Ini sepi setelah kapal Cina tidak jalan," katanya. Menurutnya, saat kapal-kapal Cina masih aktif menangkap ikan, permintaan satwa tinggi.

Hendori menuturkan dahulu dalam sehari dia bisa menangkap sampai 20 ekor burung endemik. Terkadang ia membeli dari warga setempat, kemudian dijual kepada nelayan Cina dengan harga Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta.

Biasanya, kata lelaki asal Jawa Tengah ini, dalam sebulan hewan-hewan tersebut dikirim dua kali saat ada kapal mengirim barang ke Cina. Makanya, Hendori mengatakan, sekali angkut bisa ada 100 hewan pelbagai jenis yang dikirim.

Pedagang lain, Winarsi, mengatakan saat masih ramai bisa mendapatkan uang sampai Rp 50 juta sekali angkut hewan. "Peminat Cina memang tinggi," katanya.

SYAILENDRA - Tempo

Terimakasih atas kunjungan anda di www.FAK-FAK.com , Silahkan berbagi :