Sejarah Berulang, Jika Dulu Persipura Kini Bonek Kena Kutukan WO

Sejarah Berulang, Jika Dulu Persipura Kini Bonek Kena Kutukan WO

SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Sriwijaya FC lolos ke babak semifinal Piala Presiden usai menang WO atas Bonek FC, di leg kedua babak delapan, di Stadion Gelora Sriiwjaya Jakabaring, Minggu (28/9).
Kemenangan Sriwijaya FC atas Bonek FC yang didapat setelah tim tamu asal Surabaya melakukan aksi walk out (WO) bukanlah pertama kalinya, SFC mengulang sejarah, dan menjadi tim dengan spesialis menang WO, karena terjadi dua kali di sepanjang sejarah SFC.
Kejadian ini seakan mengulang memori Minggu, 29 Juni 2009 lalu saat SFC berlaga di babak final Copa Indonesia bertemu Persipura.
Saat itu, skuad Mutiara Hitam mogok main di menit 60 babak kedua menyusul kartu merah untuk pemainnya di final Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008/2009.
Aksi mogok itu berlangsung 30 menit, saat itu itu pemain masih berada di lapangan, namun pemain Persipura masuk ke ruang ganti mereka. Hingga menit 60 itu, Sriwijaya sementara unggul. Gol pertama Sriwijaya diciptakan Obiora menit 51.
Persipura berupaya menyamakan kedudukan. Terjadi hands ball pemain belakang Sriwijaya, namun wasit tak melihatnya. Justru wasit Purwanto mengeluarkan kartu merah bagi Ernest Jeremiah karena protes di menit 60.
Persipura protes dan mogok main, sehingga SFC dinyatakan menang 3-0 sekaligus mempertahankan gelar juara Copa Indonesia yang kedua kalinya. Saat itu, SFC masih dilatih Rahmad Darmawan yang baru memasuki tahun keduanya di Palembang. Nama-nama seperti Ferry Rotinsulu, Keith Kayamba, Charis Yulianto, Benben Berlian atau Tony Sucipto menjadi bagian sejarah saat itu.
Sementara itu, kondisi seperti ini juga pernah dialami pelatih SFC, Beny Dollo saat menukangi Arema Indonesia di musim 2005. Pada laga final Copa Indonesia yang dimainkan Sabtu, 19 November itu Bendol membawa anak asuhnya memenangkan laga melawan Persija Jakarta 4-3. Namun laga itu sempat diwarnai aksi mogok main tim Arema asuhan Bendol karena ketidakpuasan pada keputusan wasit.
"Saya masih ingat memori tersebut, saat itu tim kami memang protes terhadap wasit dan juga meminta pergantian wasit. Namun akhirnya kami tetap turun ke lapangan dan bermain kembali, hasilnya kami mampu menang dengan skor 4-3 di babak perpanjangan waktu," kenang Bendol.
Kami Terima Penalti, Tetapi Ganti Wasit
Sementara itu, CEO Bonek FC, Gede Widiade mengaku sudah memikirkan dengan matang keputusannya."Saat memutuskan untuk tidak mau melanjutkan pertandingan, bagi kami ini bukan kalah atau menang, tapi benar atau tidak sebuah sistem," ujarnya.
Sebelum laga dimulai, pihaknya pun sudah menduga akan berlangsung dengan tekanan yang sangat tinggi."Bagi dua tim, laga ini krusial. Karena itu saat undian antara kedua kapten sebelum pertandingan, kami mengatakan ke wasit bertindak adil dan jika keterlaluan maka kami akan mundur," jelasnya.
Saat ada insiden handsball oleh Faturohman, dia langsung mendatangi petugas broadcaster dan meminta diperlihatkan tayangan ulangnya."Saya ingin tahu di rekaman, apakah ada handsball dan hasilnya tidak ada. Karena itu saat masuk ruang ganti, opsi kami tetap akan melanjutkan pertandingan namun ada pergantian wasit," bebernya.
Menurutnya, saat ditanya panpel mengenai hal itu, dia sudah berbesar hati dengan tetap menerima hukuman penalti."Saya katakan kami akan main lagi, silakan penalti diteruskan tapi wasit harus diganti," tegasnya.

sumber :  SRIPOKU.COM

Terimakasih atas kunjungan anda di www.FAK-FAK.com , Silahkan berbagi :