Indonesia Gabung Komunitas Negara Melanesia Bendung Pengaruh OPM

Posted By Admin on Friday, 30 October 2015 | 05:25:00

KUPANG - Indonesia perkuat posisinya di tengah negara-negara ras Melanesia. Sejak Juni lalu, Indonesia dikukuhkan menjadi anggota asosiasi (association member) Melanesian Spearhead Group (MSG). Di dalam MSG sendiri juga terdapat United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) motor gerakan kemerdekaan Papua.

Posisi Indonesia sebagai anggota MSG dipertegas dengan gelaran Festival Mela­nesia 2015 di Kupang, NTT. Festival ini dibuka oleh Mendikbud Anies Baswedan kemarin. Anies berpesan supaya kebudayaan Melanesia terus dijaga dan dirawat. “Jangan pula juga dikembangkan,” katanya.

Antropolog dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Gregor Neonbasu mengatakan, masuknya Indonesia sebagai anggota tetap MSG harus disambut baik. “Saya ikut prosesnya. Indonesia masuk MSG dari keputusan voting,” katanya. Dengan posisi ini, Gregor menuturkan Indonesia bisa menjelaskan kepada negara-negara Melanesia terkait posisi Papua di dalam NKRI.

Gregor mengatakan negara-negara anggota MSG lainnya adalah Fiji, Kaledonia Baru, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Timor Leste, Vanuatu, dan ULMWP. “Perlu dicatat ULMWP hanya sebagai peninjau. Tidak punya hak suara,” jelas dia. Posisi ULMWP di MSG tidak sekuat Indonesia, jadi tidak ada masalah jika bersama dalam satu meja diplomasi.

Menurut Gregor awal­nya negara-negara anggota MSG itu mempercayai dan mendukung gerakan Papua Merdeka yang dihembuskan oleh ULMWP. Tetapi setelah pemerintah Indonesia menjelaskan posisi Papua dalam forum MSG, akhirnya dukungan terhadap ULMWP berkurang. Informasinya negara yang mendukung ULMWP saat ini hanya Vanuatu. Indikasinya delegasi Vanuatu tidak ikut menghadiri Festival Melanesia di Kupang. Selain itu sempat muncul kabar pembangunan kedutaan ULMWP di Vanuatu yang akhirnya menuai protes Indonesia.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Kacung Marijan mengatakan, kebudayaan merupakan salah satu upaya membuka pintu diplomasi. Dia menggatakan setelah diawali dengan pendekatan kebudayaan, kepentingan lainnya seperti ekonomi dan politik bisa masuk.

Kacung juga berharap me­lalui festival ini bisa terjalin rasa persaudaraan antara negara-negara ras melanesia. Dia menuturkan banyak pihak yang mengira ras melanesia di Indonesia hanya di daratan Papua saja. “Tapi tidak begitu. Ras melanesia juga ada di NTT, Maluku, dan Maluku Utara,” kata Kacung. 
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Melda Kamil Ariadno menuturkan, mendukung manuver Indonesia dengan masuk komunitas MSG itu. “Sekarang Indonesia harus menjalin persahabatan dengan negara-negara Melanesia,” tuturnya. Persahabatan ini penting guna menekan suara Papua Merdeka yang digelorakan kelompok separatis.

  Menurut Melda upaya gerakan Papua Merdeka bisa padam dengan sendirinya jika tidak mendapatkan dukungan dari negara-negara yang sudah berdaulat. Melda menjelaskan negara-negara ras Melanesia meskipun tidak sebesar Indonesia, tetap harus dirangkul.

Selain itu Melda mengatakan kepesertaan Indonesia di MSG bisa digunakan untuk saluran promosi pembangunan di Papua maupun Papua Barat. “Mulai dari pembangunan SDM hingga infrastrukturnya, silahkan dipromosikan ke negara-negara Melanesia,” jelasnya. Dia tidak ingin pengalaman pahit yakni pecahnya Timor Leste kembali terulang di Papua. (wan)

Sumber: RadarSorong
Blog, Updated at: 05:25:00