Kabut Asap Kepung Papua Barat, Fakfak ada 11 Titik Api

Posted By Admin on Monday, 19 October 2015 | 17:12:00

Kabut Asap Kepung Papua Barat
Mendagri Naik Kapal, Sejumlah Penerbangan Dibatalkan


Kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan yang makin pekat menyelimuti udara Provinsi Papua Barat ikut mempengaruhi kunjungan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Tjahjo Kumolo untuk meresmikan Kantor Gubernur Papua Barat, hari ini (19/10). Awalnya, Mendagri dan rombongan akan menggunakan pesawat ke Manokwari setelah melakukan kunjungan kerja di Waisai, Raja Ampat. Namun mengantisipasi penutupan bandara akibat dampak kabut asap, Mendagri dan rombongan berangkat ke Manokwari menumpang kapal cepat milik Pemprov Papua Barat.

  Keberangkatan Mendagri dan rombongan dari Waisai ke Manokwari menggunakan kapal cepat ini dibenarkan Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Papua Barat, Drs. H. Musa Kamudi, Minggu (18/10).  Perjalanan melalui laut dari Waisai ke Manokwari ditempuh sekitar 8 jam. Kapal tersebut diberangkatkan pada pukul 16.30 WIT dari Waisai dan tiba Manokwari sekitar pukul 01.00 WIT.

   Saat dikonfirmasi kemarin sore, Musa Kamudi mengatakan, Mendagri dan rombongan telah meninggalkan Waisai 1 jam lamanya. “Mendagri dan rombongan saat ini (kemarin sore) sudah dalam perjalanan dari Raja Ampat menuju Manokwari dengan menempuh waktu perjalanan kurang lebih 8 jam. Hal ini disebabkan karena penerbangan di Sorong untuk sementara di-close akibat kondisi cuaca yang tidak stabil saat ini diselimuti kabut asap,” katanya kepada Radar Sorong,  kemarin.

  Musa menjelaskan, perjalanan mengikuti kapal milik Pemprov Papua Barat tersebut sesuai dengan permintaan Mendagri. Padahal sebelumnya direncanakan dari Waisai ke Sorong menggunakan kapal Cruiser, selanjutnya dari Sorong ke Manowkari mengikuti KM Labobar. Dalam perjalanan menuju Manokwari kapal Cruiser akan dikawal kapal KRI.

  “Demi keselamatan Mendagri dan rombongan serta sejumlah pejabat daerah Provinsi Papua Barat termasuk Wakil Gubernur Papua Barat, Irene Manibuy SH juga sejumlah pejabat dari pusat maka kami mengambil jalan alternative menggunakan kapal laut,” kata Musa.

  Sementara Kepala Biro Pemerintahan saat dikonfirmasi via telephon mengaku hingga semalam kondisi cuaca di laut sangat kondusif. Mendagri akan menginap di Aston Niu Hotel, Manokwari. Dijadwalkan Mendagri akan meresmikan Kantor Gubernur Provinsi Papua Barat di Arfai, pukul 10.00 WIT. Setelah itu, Mendagri akan langsung kembali ke Jakarta karena harus mengikuti kegiatan pada sore hari. 

46 Titik Api di Papua Barat

BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) mendeteksi sejumlah titik api di wilayah Provinsi Papua Barat. Data dari BMKG, pada Minggu (18/10), terdeteksi 46 titik api di Provinsi Papua Barat tersebar hampir di semua kabupaten.

  Hotspot terbanyak di wilayah Kabupaten Fakfak 11 titik api, di Kabupaten Sorong Selatan (Sorsel) 10 titik api, Teluk Bintuni 9 titik, Tambrauw 6 titik, Pegunungan Arfak 6 titik. Titi api juga terdeteksi di Maybrat, Raja Ampat, Manokwari,Manokwari Selatan dan Kaimana. Selain itu, titik api terdeteksi di sejumlah wilayah di Provinsi Papua.

  Kepala BMKG Stasiun Rendani, Manokwari, Denny Putiray mengatakan, sebaran titik api makin bertambah sehingga menimbulkan kabut asap yang mengurangi jarak pandang. ‘’Dari pantauan, kabut asap mulai terlihat pada 29 September lalu. Ada kecenderuangan makin pekat  yang mengganggu jarak pandang,’’ ujar Putiray kepada Radar Sorong via telepon selulernya,Minggu (18/10).

  Kabut asap di wilayah Manokwari semakin pekat. Putiray mengatakan, pada 16 Oktober lewat citra satelit terdeteksi titik api di wilayah Papua Barat. ‘’Dengan kondisi ini kabut asap semakin tebal. Saya baru cek lagi setelah pulang ibadah, jarak pandang berkurang tinggal 2  km,’’ tuturnya.

  Titik-titip api  yang terdeteksi ini harus segera dipadamkan untuk menghilangkan kabut asap. Namun bila titik api bertambah, maka kabut asap makin pekat dan dapat mempengaruhi dunia penerbangan serta aktifitas lainnya. 

  Selain dengan pemadaman, salah satu hal yang dapat memadamkan titik api dengan hujan. Namun, menurut Kepala BMKG Stasiun Rendani ini, diperkirakan curah hujan baru akan turun November. Hujan yang tidak merata belum tentu dapat menghilangkan titik api.

  ‘’Ya,kita harapkan segera turun hujan  yang merata di wilayah Papua Barat. Kalau hujan hanya sementara dan tidak merata,titik api bisa saja muncul bahkan bertambah banyak. Kita lihat saja fenomena alam yang terjadi nanti,’’ tuturnya.

  Sementara itu,Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat,Ir.Hendrik Runaweri membenarkan makin tebalnya kabut asap yang menyelimuti wilayah ini. Kondisi ini terjadi karena pembakaran lahan dan hutan yang dilakukan sebagai petani saat membuka kebun. ‘’Ada beberapa titik api yang muncul sehingga menimbulkan kabut asap,’’ tandas Kadishut kepada wartawan di pendopo kantor gubernur.

  Kadishut menyatakan,jajarannya telah berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan kabupaten/kota agar segera mengatasi titik api ini. Munculnya titik api menurut dia, akibat aktifitas masyarakat yang membakar lahan untuk pertanian. ‘’Masyarakat bakar kebun sehingga muncul titik api. Ini (pembakaran kebun) merupakan salah satu pola pertanian masyarakat,’’ tuturnya.

  Bila petani membersihkan atau membuka lahan pertanian dengan cara membakar,Runaweri mengingatkan agar dijaga untuk mencegah api tidak meluas. Namun alangkah baiknya bila petani menghentikan pembakaran kebun karena berdampak.

  Gubernur pun telah menyurati para bupati/walikota untuk mengantisipasi pembakaran lahan dan hutan serta kabut asap. Runaweri menyebut sejumlah titik api terdapat di Tambrauw,Sorong Selatan,Teluk Wondama dan wilayah lainnya. 

  Kabut asap yang makin mempengaruhi jarak pandang ini dipengaruhi pula musim kemarau perkepanjangan. Kadishut berharap musim hujan segera tiba sehingga dapat memadamkam kebakaran lahan serta menghilangkan kabut asap.

Sejumlah Penerbangan di Manokwari Dibatalkan

Kabut asap  yang semakin pekat menyelimuti langit Manokwari dan umumnya di Provinsi Papua Barat mulai berdampak pada dunia penerbangan. Sejumlah maskapai di antaranya Sriwijaya Air dan Garuda, Minggu (18/11) membatalkan penerbangan dari dan ke Bandara Rendani Manokwari.

  Dalam jadwal, pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-571 direncanakan tiba di Bandara Rendani Manokwari pukul 09.00 WIT.Penumpang pun sudah memadati terminal. Ada sebagian yang sudah check-in.

  Tak lama kemudian, pihak maskapai pengumumkan pesawat Sriwijaya Air membatalkan penerbangan dengan alasan kabut asap di Manokwari yang sangat mengganggu jarak pandang. ‘’Mohon maaf, penerbangan dibatalkan karena ada kabut asap,’’ ujar seorang petugas Sriwijaya kepada sejumlah penumpang yang sudah menunggu sejak pagi.

  Sedangkan Garuda, sehari sebelumnya sudah mengumumkan bahwa tidak ada penerbangan di Bandara Rendani Manokwari karena kabut asap. Yang tetap berani melayani penerbangan di Bandara Rendani kemarin hanya pesawat Expressair tujuan Sorong-Makassar-Jakarta dan kota-kota lainnya.

  Kepala BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Stasiun Rendani, Manokwari,Denny Putiray mengatakan, pihaknya setiap hari selalu memberi data untuk sejumlah keperluan seperti penerbangan. Kondisi Minggu kemarin jarak pandang mencapai 2 km, namun ada maskapai penerbangan menyikapinya secara beragam.

   ‘’Seperti Garuda, minimal jarak pandang 4 km, kalau di bawah itu tidak terbang lagi. Jadi, kondisi sekarang ini memang ada sejumlah airlines yang tidak berani mengambil resiko sehingga membatalkan penerbangan,’’ ujar Denny Putiray kepada Koran ini  via telepon selulernya.

   Sementara itu, akibat pembatalan penerbangan, ratusan calon penumpang Sriwijaya Air tujuan Jayapura, Sorong, Makassar, Jakarta dan kota-kota lainnya batal berangkat. Para calon penumpang hanya bisa pasrah dengan pembatalan ini, namun sebagian dari mereka  meminta maskapai mengembalikan uang tiket secara utuh atau 100 persen.

  Puluhan calon penumpang tujuan Jayapura mendatangi counter Sriwijaya Air di lantai 2 terminal Bandara Rendani. Mereka hendak mengembalikan tiket. Namun, petugas Sriwijaya Air mencoba menjelaskan, bahwa pembatalan penerbangan karena faktor alam, sehingga bila ada penumpang yang mengembalikan tiket, maka mendapatkan pengembalian 50 %.

  Kontan saja, para penumpang tak terima dengan pengembalian tiket hanya 50  % tersebut. Sempat terjadi keributan dan adu argumentasi. Mereka meminta pengembalian uang tiket utuh 100 %.  

  Bahkan seorang ibu sempat menggebrak meja di counter Sriwijaya Air karena tak puas dengan penjelasan karyawan. Sempat juga terjadi saling tunjuk. ‘’Kalau penumpang yang tidak bisa berangkat karena terhalang di jalan menuju bandara maskapai batalkan tiket. Kalau memang begitu seharusnya kalau pembatalan keberangkatan karena faktor alam, maka uang tiket dikembalikan 100 persen,’’ ujar seorang penumpang dengan nada keras.

  Salah seorang calon penumpang menyatakan, mestinya ia sudah berada di Jayapura untuk  menghadiri pemakaman anggota keluarganya, Minggu (18/10). Karena sudah tak mungkin lagi menghadiri pemakaman ia hendak mengembalikan tiket. ‘’Harusnya berangkat hari ini untuk hadiri pemakaman di Jayapura. Besok, tidak ada penerbangan ke Jayapura,jadi kembalikan saja tiket,’’ tuturnya.

  Muklis, calon penumpang tujuan Makassar menuntut penyediaan akomodasi berupa penginapan di hotel akibat pembatalan penerbangan ini. Namun, pihak maskapi tak merespon dengan alasan bukan penumpang transit, serta pembatalan penerbangan karena faktor cuaca. ‘’Meskinya maskapai tanggulangi penginapan. Saya dari Bintuni, tidak punya keluarga di Manokwari,’’ ujarnya.(lm)

Blog, Updated at: 17:12:00