Anak Meninggal di Papua Bertambah Jadi 56

Posted By Admin on Wednesday, 25 November 2015 | 14:58:00

Jayapura - Jumlah anak yang meninggal akibat penyakit misterius di Distrik Mbuwa, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua, bertambah dari 41 menjadi 56 orang.  Hal itu disampaikan Kepala Distrik Mbuwa, Erias Gwijangga, Rabu (25/11). 
"Anak-anak yang meninggal di bawah umur tujuh tahun. Obat-obatan sudah tak ada. Tenaga medis di Mbuwa saat ini  tujuh orang yang berasal dari Dinas Kesehatan Nduga," katanya.
Dalam kasus tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai, menyatakan dirinya baru mendengar kejadian tersebut tiga hari yang lalu.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai. (SP/Robert Vanwi)
“Sebelumnya tak ada laporan sama sekali, bahkan bupati Nduga yang kami konfirmasi juga mengaku belum menerima laporan. Tetapi dari laporan yang kami dapat, ada 31 anak yang meninggal dunia,” ujar Giyai seusai pembukaan rapat kerja daerah bidang kesehatan Provinsi Papua dan peluncuran bukunya Melawan Badai Kepunahan Gebrakan-Gebrakan Papua Sehat Menuju Papua Bangkit, Mandiri Sejahtera di Auditorium Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, Selasa (24/11) siang.
Dinas Kesehatan Provinsi Papua, lanjutnya, telah menurunkan tim ke daerah itu. Tim tersebut dipimpin Kepala Seksi Wabah dan Bencana Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Yamamoto Sasarari, bersama Kepala PMK, dokter Berry Wopari, yang dibantu satu dokter umum, satu dokter anak, perawat, tenaga laboratorium, dan tenaga survailance.
“Tim ini akan mencari tahu apa faktor penyebab terjadinya kematian anak dan juga mencarikan solusinya. Sebab, kami tak bisa menduga penyebab kematian anak-anak itu. Harus ada yang ke lapangan, cari penyebabnya,” ujarnya. 
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, Mesak Kogoya, yang hadir dalam kegiatan tersebut kepada wartawan menjelaskan, yang meninggal adalah bayi di bawah usia dua tahun di Distrik Mbuwa dan Distrik Bumul Liama.
“Data yang kami dapat, ada 31 balita yang meninggal secara tiba-tiba,” katanya.
Menurut Mesak, di Mbuwa ada puskesmas dan juga dokter, serta tim satgas Kaki Telanjang, yang berjumlah tujuh orang. Tetapi karena kampung-kampung di sana jaraknya berjauhan dan paling cepat ditempuh dengan jalan kaki selama dua jam, satgas kesulitan menjangkau semua kampung. 
"Petugas yang ada tak mampu menjangkau semua kampung. Saat petugas berada di kampung yang satu, di kampung lainnya terjadi kematian. Di Distrik Bumul Liama, tak ada puskesmas, hanya ada puskesmas pembantu,” katanya.
Mesak menjelaskan balita yang meninggal tiba-tiba itu awalnya mengalami panas, demam, menggigil, kejang, lalu meninggal dunia.
“Tak ada mencret, tetapi hanya panas, demam, lalu saat dikasih obat panasnya turun. Tetapi malam harinya panas lagi, lalu mengalami kejang-kejang dan meninggal dunia,” katanya.
Pihaknya menduga kematian anak secara misterius sepanjang dua minggu terakhir November di wilayah Kabupaten Nduga, disebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, dan bronkitis.
Pneumonia dan BronkitisSementara itu Kepala Seksi Wabah dan Bencana Provinsi Papua, Yamamoto Sasarari menjelaskan dari gambaran klinis yang dilaporkan ke pihaknya, diduga balita-balita itu mengalami pneumonia dan bronkitis. Penyebab bronkitis karena terjadinya infeksi bakteri, virus, jamur, peradangan, atau bahkan karena pengaruh hiperaktivitas bronkus.
Sedangkan pneumonia penyebabnya hampir mirip dengan bronkitis. Pneumonia adalah radang atau infeksi paru-paru yang juga disebabkan bakteri, virus dan jamur.
“Tetapi ini baru dugaan. Untuk lebih pastinya setelah kami melakukan pemeriksaan di lapangan. Dari gambaran klinis itu juga, tidak ada hog cholera,” kata Sasarari.
Sumber: Beritasatu.com
Blog, Updated at: 14:58:00