Eks OPM: Kami Ingin Damai, Bosan Berperang

Posted By Admin on Saturday, 30 January 2016 | 18:24:00

Dari kiri: Dandim 1714/ Puncak Jaya Letkol Bayu Sudarmanto Mathius Murib, Kepala Distrik Tinggi Nambut Yulius Tabuni, mantan anggota OPM Teranus Enumbi, saat memberikan keterangan pers di Hotel Grand Abe Jayapura, 29 Jan. 2016. (Roberth Isidorus/ Suara Pembaruan)

Jayapura - Salah satu pembelot Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM), Teranus Enumbi, yang pernah menjabat sebagai Komandan Pleton (Danton) TPN-OPM di Tinggi Nambut, Puncak Jaya, mengaku sudah bosan berjuang.

“Kami secara ikhlas bergabung menjadi warga negara Indonesia. Kami sudah bosan berjuang. Hasil yang kami capai tidak ada, dan kami malah menderita. Kami semua menginginkan Papua damai, tidak ada lagi pertumpahan darah di Papua,” ujarnya, Jumat (29/1) sore.

Dia adalah salah satu dari 10 anggota TPN-OPM pimpinan Goliat Tabuni yang menyerahkan diri kepada Bupati Puncak Jaya Henock Ibo.

Penggiat hak asasi manusia di Papua, Mathius Murib, membantah keras bahwa penyerahan diri itu adalah rekayasa.

Menurut Mathius, mereka menyerahkan diri ke NKRI melalui proses terbuka dan bukan sembunyi-sembunyi, serta tidak direkayasa seperti dituduhkan Sekjen OPM Anton Tabuni.

“Bahkan ada acara adat bakar batu sebagai acara resmi sesuai adat kami di pegunungan tengah Papua. Proses ini yang saya anggap penting, jadi pernyataan Anton yang katanya rekayasa sudah bisa diklarifikasi melalui proses bakar batu ini,” kata Mathius.

Dia didampingi Kepala Distrik Tinggi Nambut Yulius Tabuni dan lima anggota mantan anggota OPM sebelum bertolak ke Jakarta menemui Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Sutiyoso.

Mathius menambahkan jika prosesnya secara sembunyi-sembunyi atau misalnya dilakukan di tengah malam, pasti tak ada satu pun keluarga mereka di Tinggi Nambut yang tahu.

“Maka kita berani (bantah) pernyataan Anton yang mengatakan hal itu sebagai rekayasa. Prosesnya ini justru sangat terbuka, seperti ada acara bakar batu. Itu artinya tak ada rekayasa,” jelasnya.

Sebagai penggiat HAM di Papua, kata Mathius, dirinya sangat berkepentingan untuk mengakomodasi, termasuk kepentingan pemerintah dan masyarakat dalam hal ini pihak kelompok Goliat Tabuni dan teman-temannya.

“Karena itu kami fasilitasi pembicaraan Goliat. Saya tak bermaksud memihak siapa pun,” katanya.

Mathius juga mengatakan kepada semua pihak, baik TNI, Bupati Puncak Jaya, Kepala Distrik Tinggi Nambut, Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Pusat, dirinya minta agar 10 orang mantan anggota TPN-OPM ini dijamin aman dan sehat.

“Pasalnya, 10 anggota TPN-OPM ini punya hak-hak sebagai warga negara RI. Sehingga mereka harus diperlakukan sebagaimana mestinya,” kata dia.

Dari 10 orang mantan anggota TPN-OPM yang sudah menyerahkan diri ini, ada yang usianya masih sangat muda. Maka kata Mathius, mereka juga harus diperhatikan, misalnya difasilitasi untuk bisa kembali bersekolah, termasuk difasilitasi untuk usaha.

“Terus dipastikan mereka aman, terutama mereka yang bermasalah pada hukum, harus ada kebijakan resmi tak cukup cuma bicara. Sehingga mereka nantinya tak lagi dikejar masalah hukum. Jika mereka terlibat dalam kasus baku tembak di masa lalu, mari kita lupakan semua itu. Mari kita menerima dan saling menghormati sebagai warga negara. Bagi saya, aman jadi kata kunci untuk mereka,” ujarnya.

Mantan OPM Punya Hak sebagai WNI

Sementara itu Kepala Distrik Tinggi Nambut Yulius Tabuni mengatakan kembalinya kelompok tersebut ke NKRI jangan dijadikan suatu objek pemberitaan yang disalahartikan atau sengaja dipelintir untuk mengacaukan situasi.

“Sebagai anak bangsa harusnya merasa senang karena mereka telah kembali dan menyadari bahwa mereka ini adalah warga negara Indonesia. Mantan TPN-OPM ini ingin maju dan hidup layak seperti warga negara Indonesia lainnya,“ ujarnya.

Untuk itu, imbuhnya, semua orang wajib memberikan apresiasi sehingga niat tulus mereka untuk kembali bergabung dengan NKRI bisa membawa kedamaian dan perubahan hidup mereka di masyarakat.

"Mudah mudahan dengan makin banyaknya anggota kelompok bersenjata yang menyatakan diri dan bergabung dengan NKRI. Maka pembangunan di kawasan pegunungan dapat cepat terealisasi," kata dia.

“Saya akan membawa mereka ke dunia nyata dan melihat kemajuan pembangunan di Indonesia, khususnya di Papua agar mereka terbuka. Sehingga mereka sadar dan tahu pembangunan di Papua sekarang sudah maju. Mereka juga menginginkan daerahnya aman, dan pemerintah memperhatikan rakyatnya, khususnya di wilayah pegunungan agar pembangunannya segera diwujudkan.”

OPM Mengecam

Terpisah, juru bicara TPN-OPM mengatakan bahwa anggota sejati dan loyal kelompok itu belum pernah menyerah kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Dari dulu Indonesia atau TNI Polri memainkan propaganda seperti ini, tapi buktinya Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat belum pernah punah,” ujar Juru Bicara TPN-OPM Sebby Sambom melalui sambungan telepon kepada SP, Sabtu (30/1) pagi waktu setempat.

Seby yang bermukim di luar negeri ini mengatakan, Komando Nasional OPM adalah Pembebasan Militer.

“Kami siap untuk bertarung, kami ingin kemerdekaan penuh. Berhenti dengan propaganda murahan, “ujarnya.

Ditegaskannya, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat adalah sebuah organisasi pembebasan, dan organisasi pertempuran untuk merebut hak politik dan hak menentukan nasib sendiri.

“Oleh karena itu, berhenti segera Indonesia dengan fitnah terhadap TPNPB-OPM adalah sebagai organisasi kriminal,“ tegasnya.

Suara Pembaruan

Robert Isidorus/HA
Blog, Updated at: 18:24:00