Multibahasa Penting Diterapkan Dalam Sistem Pendidikan Di Papua

Siswa SD di Perbatasan - google

JAKARTA - Pemerintah Provinsi Papua Prakarsai Perencanaan Kebijakan Pendidikan Multi Bahasa Berbasis Bahasa Ibu di Pendidikan Anak Usia Dini dan Sekolah Dasar di Papua Sebagai Salah Satu Upaya Menekan Angka Putus Sekolah dan Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Jayapura.
Penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar dalam kelas kepada siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan kelas awal Sekolah Dasar di Papua dinilai sebagai langkah yang strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Provinsi Papua.

Pendekatan yang akan dilaksanakan melibatkan perkenalan pada Pendidikan Multi Bahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMB-BBI), di mana anak-anak mulai belajar melalui bahasa ibu di kelas-kelas awal dan kemudian secara bertahap belajar untuk menggunakan Bahasa Indonesia secara keseluruhan.

Terdapat bukti-bukti menarik yang menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat membantu meningkatkan partisipasi siswa, menekan angka putus sekolah, dan meningkatkan pembelajaran dalam kurikulum, sehingga mendorong efisiensi pendidikan, serta mencegah punahnya keanekaragaman bahasa dan budaya di Papua.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua, Elias Wonda mengatakan, sejumlah dukungan politik untuk mengintegrasikan PMB-BBI ke sekolahsekolah di daerah pedesaan dan terpencil Papua telah dilakukan.
“Saat ini telah kembangkan rencana empat tahun kedepan yang dimulai Juli 2016, untuk mengimplementasikan program percontohan PMB-BBI di salah satu Kecamatan di Lembah Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya,” kata Elias melalui keterangan pers yang diterima Kabar24, Jakarta, Kamis (4/2/2016).
Menurut survei sosiolinguistik, Bahasa Indonesia menjadi bahasa sekunder pada hampir semua penduduk Lanny Jaya dan penguasaan terhadap bahasa nasional tersebut pada saat itu lemah. Lani adalah bahasa pertama pada hampir seluruh anak di kabupaten tersebut, dan kabupaten lain di sekitarnya, termasuk di Kabupaten Jayawijaya.
Dari sampel sebanyak 184 siswa kelas 2 dan kelas 3, sebanyak 75% dari seluruh siswa menganggap Bahasa Indonesia sulit, sementara 88% menganggap Bahasa Lani mudah. Hanya sekitar 13% dari siswa tersebut yang lancar dalam dua bahasa tersebut (dwi-bahasa).

Dr. Joost Pikkert, Ketua Tim Program PMB-BBI dari SIL International Indonesia menjelaskan, Secara psikologis, anak-anak akan lebih siap belajar menerima bahasa lain di luar bahasa ibunya kurang lebih di kelas 3 sekolah dasar. Setelah mereka secara bertahap belajar Bahasa Indonesia, perkenalan terhadap bahasa asing seperti Bahasa Inggris idealnya diajarkan di usia yang lebih dewasa.

Namun demikian, meski tiga kali lipat siswa menganggap Bahasa Lani mudah dan Bahasa Indonesia sulit, hampir 65% guru menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di kelas dan hanya 20% guru yang menggunakan Bahasa Lani. Lebih lanjut, 6,9% dari siswa umumnya dilarang menggunakan bahasa lokal mereka ketika di sekolah.

“Dibandingkan, siswa di asrama dengan guru non-Papua lebih mungkin untuk dipukuli jika menggunakan bahasa lokal dibandingkan dengan siswa di sekolah lainnya. Hal ini mencerminkan betapa Penerapan Pendidikan Multi Bahasa berbasis Bahasa Ibu sangat dibutuhkan untuk membuat pelajaran yang diberikan kepada kelas awal bisa dipahami dengan lebih mudah, sehingga mempercepat pembelajaran, dan di saat yang bersamaan melindungi serta menghormati bahasa dan kebudayaan lokal,” jelasnya.
Sumber: http://kabar24.bisnis.com

Terimakasih atas kunjungan anda di www.FAK-FAK.com , Silahkan berbagi :