Dicari, Pemimpin Berintegritas yang Menyejahterakan Bangsa

 
JAKARTA,  - Diskursus tentang kesejahteraan sudah cukup lama, bahkan pada jaman Yunani dan Romawi kuno pun diskursus seperti ini sudah banyak dilakukan oleh para filosof saat itu. 
Perdebatan tersebut berawal dari keyakinan para cerdik pandai tentang perubahan sosial yang tak pernah berhenti dalam kehidupan manusia. Perdebatan keyakinan tentang perubahan sosial tidak dapat dipisahkan dari pencapaian tujuan hidup yang dianggapnya lebih baik, tentangnya pada umumnya orang menyebutnya dengan sejahtera (well being).

Negara Kesejahteraan (welfare state) merupakan perwujudan para pemikir intervensionis dimana intervensi negara terhadap masyarakat akan membantu perkembangan ekonomi dan kesejahteraan mereka. 

Di negara berkembang termasuk Indonesia, pembangunan adalah sebagai sebuah cara, sedang kesejahteraan adalah sebagai tujuan. Di tengah masyarakat Indonesia yang sedang berubah dimana kesejahteraan ditentukan atas ukuran individual yang ditandai oleh peningkatan pendapatan dan pemilikan, institusi kesejahteraan yang berbasis komunitas (community welfare) dalam beberapa hal masih tampak di pedesaan maupun kampung pinggiran kota.

Nah, bagaimana kaitan antara kesejahteraan dan pemimpin bangsa? Kesejahteraan itu menurut saya infinitive yang mencakup kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, pendapatan, penegakan hukum. Jadi kesejahteraan itu menyangkut banyak aspek. Kesejahteraan juga menyangkut keamanan, kenyamanan. Kesejahteraan yang harus dicapai adalah membuat bangsa Indonesia bangsa yang happy, gembira bukan bangsa yang stres. 

Dan inilah keunikan daripada bangsa Indonesia yang hidupnya pas-pasan tapi masih bisa happy saja. Di rangking soal bangsa yang happy itu Indonesia cukup tinggi. Malahan Singapore yang income-nya cukup tinggi itu di paling buncit nomor 99 mereka tidak bahagia. Hidup mereka banyak stres. 

Kesejahteraan yang harus dicapai itu menurut saya adalah sekarang satu kenyataan pemimpin harus bisa menciptakan lapangan kerja. Juga untuk UKM, rasio UKM Indonesia rasio pendapat pajak kita juga ketinggalan dibanding negara lain. Ini yang harus diperbaiki tapi kerja nyata bukan wacana. Ini amat penting! 
Tolok ukur dari suatu kesejahteraan oleh negara daripada suatu bangsa adalah pendidikan gratis, medikal atau pengobatan gratis tapi bermutu. Salah satu contoh yang terbaik di dunia adalah negara Australia. Indonesia bisa mencapai hal-hal yang istimewa tersebut dalam lima tahun apabila pimpinan dan pemimpin bangsa itu fokus dalam langkah-langkah nyata, dan bukan cuma wacana. 

Kesejahteraan sangat erat hubungannya dengan domestic purchasing power. Indonesia timur sulit berkembang karena populasinya sedikit. Singapura  mempunyai populasi 30 tahun lalu cuma 3,5 juta sekarang menjadi 6 juta. Negara pulau itu memasukan tokoh-tokoh profesional dan pedagang ke Singapore diberikan permanent residence status karena Singapore sadar betapa penting populasi itu.

Maka Indonesia untuk mewujudkan suatu kesejahteraan khususnya Indonesia Timur harus menganut globalization transmigration program dan kita berani undang orang-orang terbaik untuk tinggal di Papua sedikitnya harus menambah 25 juta jiwa dan di Indonesia bagian timur lainnya sehingga segala usaha pabrikan bisa survive. 

Indonesia untuk jaya memerlukan seorang pemimpin yang mempunya 3 karakter sangat penting. Satu adalah cinta rakyat setengah mati, diktator setengah mati, inovatif setengah mati. Yang disebut integrasi itu di jaman Soeharto itu terealisir karena beliau adalah seorang diktator seperti Mahatir dan Lee Kuan Yeuw.
Jaman sekarang itu menteri sama menteri bisa tidak bicara, kinerjanya lemah. Dari dulu eksekutif, legilastif kerjanya kurang kompak. Yudikatif kurang berhasil makanya timbulah KPK dan kecenderungan di sektor yudikatif itu masing-masing cari rejeki dan ini amat bahaya.

Integritas daripada pimpinan bangsa saat sekarang perlu diperbaiki dengan skala yang amat besar. Integritas itu akan tercapai kalau memang cinta rakyat setengah mati. Seluruh kebijakan regulasi akan mementingkan kesejahteraan rakyat. Diktator setengah mati juga akan menimbulkan integritas yang solid. Membiarkan oknum-oknum korupsi dan melaksanakan kebijakan-kebijakan masing-masing itu adalah disintegritas. 

Tapi dengan seorang diktator seperti Mahatir Mohammad, Lee Kuan Yeuw, dan Soeharto integritas akan tercapai. Inovatif setengah mati. Kalau memang semua orang lapar, the hungry move is the angry move. Itu menyatakan bahwa apabila rakyat lapar, maka rakyat akan memberontak. Apabila rakyat berontak itu disintegrasi. 

Kalau jalan dengan penuh inovatif dan meraih segala keuntungan dari inovatif tersebut untuk kesejahteraan bangsa maka bangsa yang jaya, kaya itu akan membuktikan integrasi seperti di negara-negara maju. 
Masih banyak kiprah atau peranan netralnews yang bisa kita jalankan. Mengenai integritasi ini, lima tahun dulu saya sudah usulkan perlu dibentuknya RSN-Rukun Suku Nusantara. Dan RSN ini akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa di luar eksekutif, legislatif, dan yudikatif. 

RSN dipimpin oleh Presidium terdiri dari 9 kepala suku dari Sabang-Merauke itu kita mempunyai lebih dari 250 suku dan kita intergrasikan mereka, kumpulkan mereka jadikan satu mereka. Nah, persatuan RSN ini adalah satu langkah dashyat bangsa Indonesia. Saya harap 2017 pembentukan RSN sudah bisa direalisir. 
Jika gagasan yang saya sampaikan di atas dilaksanakan maka saya yakin akan muncul pemimpin berintegritas yang mampu menyejahterakan bangsa. 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura

Penulis adalah pengusaha nasional, pemilik kelompok usaha Blossom Group (Blossom Commercial Network) yang bergerak di bidang kontraktor, properti, dan consumer product, mantan calon presiden (Capres) dari PKPI 2014 | Netralnews

Terimakasih atas kunjungan anda di www.FAK-FAK.com , Silahkan berbagi :