Media Sosial


MEDIA sosial dirancang dengan tujuan baik, agar orang-orang di berbagai belahan dunia dapat terhubungkan. Seperti pisau, perkakas ini dibuat tidak untuk menusuk atau membunuh orang lain, tetapi dibuat dengan niat yang baik untuk memudahkan manusia mengerat atau memotong kebutuhan hidupnya. Namun, perkakas yang tajam itu dapat digunakan untuk tujuan yang tidak terpuji dan menghilangkan nyawa orang lain. Begitupun dengan media sosial, dapat dimanfaatkan untuk tujuan mempengaruhi orang lain agar berbuat kebaikan, tapi juga dapat dijadikan alat untuk berbuat kejahatan, untuk tujuan memecahkan perhatian masyarakat, dan menumbuhkan fanatisme untuk membenci yang dianggapnya musuh yang harus dikalahkan.

Artis mancanegara Justin Bieber, dapat menjadi contoh, bagaimana media sosial dijadikan alat oleh penggemarnya untuk memuji dan merundung artis pujaannya. Tidak kuat dengan perundungan itu, akhirnya Justin Bieber memutuskan untuk meninggalkan Instagram pribadinya sejak Agustus 2016.
Seperti pisau, media sosial itu bermata dua. Selain dapat menjadi alat untuk menyebarluaskan fitnah, kebohongan, dan keburukan, media sosial juga mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk mempengaruhi sikap penggunanya. Para pemasar barang dan jasa dari perusahaan-perusahaan besar sudah dengan terencana menggunakan media sosial sebagai media pemasaran.

Ketika bahasa visual mendominasi dunia maya, maka salah satu media sosial Instagram lahir untuk menjawab kekuatan pasar atau pengguna internet yang lebih tertarik pada bahasa gambar atau foto. Instagram yang telah dilengkapi dengan berbagai fitur yang memudahkan penggunanya, seperti filter foto dan optimalisasi hashtag dalam pengelompokan tema foto, tampil memikat banyak perhatian, tak terkecuali para pelaku bisnis.

Aplikasi Instagram lebih menitikberatkan pada kekuatan foto. Sesuai namanya, insta dan gram. Insta kependekan dari kata instant atau cepat. Kata instant juga pernah digunaan sebagai sebutan lain kamera polaroid, kamera yang bisa langsung mencetak foto beberapa saat setelah gambar diambil. Kata gram merupakan kependekan dari kata telegram yang menganalogikan sebagai media pengirim informasi yang cepat. Sesuai dengan namanya, Instagram, kekuatan utama media sosial ini adalah pada tampilan fotonya, sebagai media untuk mengirim atau mengunggah foto dalam waktu yang sangat cepat. Kini, apa yang diunggah di Instagram dapat langsung diposting silang ke media sosial lain yang dimiliki, seperti facebook dan media sosial lainnya. Para pemasar perusahaan besar sangat memanfaatkan peluang ini, dan menjadikan Instagram sebagai alat promosi gratis.

Menurut data BPS, penduduk Indonesia tahun 2016 sebanyak 25.870.500.000 orang. Dari jumlah itu, 132.700.000 orang telah terhubung ke internet. Menurut data MAU (Monthly Active Users) seperti yang dikutip oleh CNN Indonesia, ada 22.000.000 orang Indonesia sebagai pengguna aktif Instagram.

Namun demikian, menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah terbesar pengguna internet itu masih berada di Pulau Jawa, yaitu sekitar 86.300.000 orang atau 65 persen dari angkat total pengguna internet di Indonesia. Jumlah ini akan terus meningkat, salah satu faktornya adalah jumlah penduduk Indonesia yang terus berkembang. Pada tahun 2017 penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai 26.189.090.000 orang. Sisanya tersebar di: Sumatera 20,7 juta atau 15,7 persen, Sulawesi 8,4 juta atau 6,3 persen, Kalimantan 7,6 juta atau 5,8 persen, Bali dan NTB 6,1 juta atau 4,7 persen, dan di Maluku dan Papua 3,3 juta atau 2,5 persen. Melihat kecenderungan menggunakan media sosial, Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna terbanyak media sosial.

Menurut BBC Indonesia, pada tahun 2016, jumlah pengguna Instagram di dunia mencapai angka 500.000.000 orang, dan lebih dari 300 juta orang menggunakannya paling sedikit satu kali dalam sehari. Ke dalam aplikasi itu rata-rata diunggah 95.000.000 foto dan video setiap harinya. Sementara pengguna facebook di Indonesia, menurut manajemen Facebook Indonesia, bahwa pengguna aktif bulanan jejaring sosial fb di Indonesia tahun 2016 mencapai 88.000.000 orang.

Dengan kecenderungan penggunaan media sosial seperti Instagram dan facebook yang terus melejit di Indonesia, apakah media sosial ini sudah dimanfaatkan oleh Dinas Pariwisata untuk tujuan memasarkan destinasi-destinasi wisata di daerahnya, dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik?
Karena kepentingannya yang berbeda, karena apa yang diunggahnya berbeda, baik isi maupun gayanya dengan media humas PEMDA yang selalu ingin menampilkan wajah pimpinannya, maka laman Instagram dan facebook yang mengkhususkan untuk memasarkan destinasi wisata, harus dipisahkan dari media humas dengan nama yang berbeda pula. Di Negera orang, laman media sosial resmi yang dikelola Negara, nama lamannya bisa dua, tiga, atau lebih, yang mengunggah foto-foto terbaiknya dengan kekhususan masing-masing. Media sosial ini akan menjadi pintu pembuka ke dunia yang lebih luas, dengan mencarinya di aplikasi lain yang memuat informasi lebih banyak.
Karena keutamaan Instagram itu terletak pada foto dengan sedikit keterangan, maka semua foto yang diunggah haruslah foto terbaik tentang apa yang ingin disampaikan kepada khalayak pengguna media sosial. Misalnya foto-foto tentang tiga pilar utama pariwisata, yaitu tentang keragaman buminya yang meliputi bentang alam/landskap, proses kebumian seperti gunungapi, serta mineral dan fosil. Foto keragaman hayati seperti tentang ekosistem secara umum, flora, dan faunanya, mulai dari yang berukuran besar sampai yang berukuran kecil. Foto keragaman budaya yang mencakup 7 unsur kebudayaan, seperti yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat. Begitu banyaknya tema foto yang akan diunggah ke media sosial, rasanya tidak akan sampai kekurangan foto bila sumberdaya manusia yang ada dikelola dengan baik.

Bila SKPD/dinas yang terkait dengan pariwisata tidak mempunyai sumberdaya manusia yang baik yang mampu mengambil foto-foto terbaik tentang keragaman bumi, hayati, dan budaya, maka harus dicari cara lain agar foto-foto terbaik itu dapat terkumpul dan dapat diunggah di media sosial dengan santun dan halal. Salah satu caranya adalah menghubungi semua pemotret yang pernah mengunggah foto terbaik yang pernah diunggah di media sosial melalui pesan yang ditulis di kotak pesan atau di komentar di bawah foto tersebut. Bila dizinkan untuk diunggah di media sosial, maka etika harus tetap dijaga, yaitu selalu mencantumkan nama pemotretnya.

Cara kedua, dinas tersebut secara periodik dan terus-menerus mengadakan lomba foto bulanan. Dilipih 10 foto terbaik dan 20 foto harapan, dengan ketentuan foto-foto tersebut diizinkan untuk diunggah di media social dengan tetap menjaga hak ciptanya. Bila setiap bulannya terhimpun 30 foto yang dapat dikategorikan baik, maka dinas tersebut akan mempunyai foto yang cukup untuk satu bulan, sehingga setiap hari dapat mengunggah foto baru.

Cara ketiga adalah menggandeng klub-klub fotografi. Dengan ketentuan hak cipta dan honorarium yang disepakati bersama, foto-foto terbaiknya dapat diunggah di media sosial. Ini cara mudah untuk mendapatkan foto-foto terbaik yang diambil oleh ahlinya dari daerah yang akan dipromosikan.
Mengunggah foto-foto terbaik dengan sedikit keterangan di media sosial merupakan upaya membukakan pintu-pintu, untuk mempersilahkan masyarakat dunia mengunjungi destinasi pariwisata di dunia nyata. Hal ini sudah digarap dengan sangat serius di Negara orang, dan rasanya belum terlambat untuk dimulai secara sungguh-sungguh di sini!***

tbachtiar's picture

T Bachtiar 

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung


Media Sosial Media Sosial Reviewed by Anak Papua on 09:40:00 Rating: 5
Powered by Blogger.