Ajudan Presiden Diharap Tak Lupa Darah yang Tumpah di Papua

Kombes Jhonny Edison Isir dan Brigadir Stevanus Maifun, bersama dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Jhonny dan Stevanus adalah dua putra Papua yang kini masing-masing menjadi ajudan Presiden Joko Widodo dan ajudan Kapolri. (Foto: Ist)
JAYAPURA - Keputusan Presiden Joko Widodo untuk memilih Kombes Pol. Jhonny Edison Isir, putra asli Papua sebagai salah seorang ajudannya, menjadi pembicaraan yang cukup ramai. Inilah pertama kali seorang putra asli Papua menduduki jabatan itu.

"Sejarah, (baru) pertama kali orang Papua bisa menjadi ajudan presiden. Pertama juga orang dari Polri ajudan presiden orang Papua," kata Kapolri Tito Karnavian kepada wartawan di Jakarta (16/8/2017).

Kapolri menilai, pilihan ini merupakan cerminan nasionalisme Presiden Jokowi yang tidak membeda-bedakan warganegara berdasarkan SARA.

Pada saat yang sama, terpilihnya Jhonny Isir mendapat sambutan dengan nada kritis dari sejumlah aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua.

Diangkatnya putra asli Papua sebagai ajudan presiden di tengah ramainya sorotan terhadap pelanggaran HAM di Papua, memunculkan peringatan agar waspada, jangan sampai pengangkatan ini mengandung pamrih tertentu untuk mengaburkan pelanggaran yang ada.

Lebih jauh, diingatkan pula kepada Jhonny Isir bahwa posisi yang ia raih saat ini tak lepas dari jerih payah, keringat bahkan darah rakyat Papua yang tumpah sejak tahun 1962 untuk menyuarakan hak-hak mereka kepada Jakarta. 

"Supaya orang Papua, khususnya Maybrat/Ayamaru, tidak mati sombong buta-buta atas posisi tersebut (ajudan Presiden, red), saya mau bagikan catatan kecil ini. Selamat untuk Adik Polisi Kombes Isir. Musti kita akui, posisi demikian bisa diraih anak Papua saat ini, selain karena prestasi individu, tetapi juga karena  didukung oleh perjuangan panjang dan berdarah-darah rakyat Papua sejak tahun 1962 menuntut penghargaan atas harkat dan martabatnya. Tanpa perjuangan itu, Jakarta mana mau peduli pada Papua," tulis aktivis HAM Papua, Frederika Korain, pada sebuah grup diskusi WA, menyambut terpilihnya Jhonny Isir.

Menurutnya, perhatian Jakarta kepada Papua tak lepas dari "buah melayangnya nyawa Arnold Ap, Theys Eluway, Mako Tabuni, Kelly Kwalik, Pricila Yakadewa & Hegemur, perempuan-perempuan Papua pemberani pengibar Bintang Kejora di depan kantor gubernur Irja Dok 2 tahun 1980an, Agus Alua, Marhen Tabu, Prawar, Permenas Awom, Melky Solossa, dan masih banyak lagi."

Ia juga mengingatkan bahwa jabatan yang diberi bagi kepada anak-anak Papua di Republik ini tak lepas dari hitungan 'malu-malu' terhadap  nyawa dan tanah air orang Amungme dan Kamoro yang hidupnya dihancurkan perusahaan pertambangan multinasional setengah abad lamanya dan masih terus berlanjut.

Juga "air mata orang Moi di Sorong dan orang Bintuni dimana minyak dan gas di perut bumi tanah adat mereka telah dikuras, juga harga dari tanah adat warga Kerom, Malind, Nifasi, dll yang telah dirampas utk areal transmigrasi, kelapa sawit dan MIFEE."

"Begitu juga kita tidak lupa bahwa ada keringat pemuda-pemudi Papua yang tidak gentar turun jalan meneriakkan yel-yel Hak Hidup dan Pembebasan bagi Papua, seperti anak-anak Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang kemarin aksi menuntut ketidakadilan Perjanjian New York 1962, lalu ditangkap di berbagai kota di Jawa."

"Begitu pula dengan KNPB dan organ Papua lainnya yg pasang badan jalanan utama kota-kota di Tanah Papua."

Ia juga mengingatkan bahwa  hasil banting tulang para diplomat United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di luar negeri "yang makin bikin Jakarta bangun dari tidur panjangnya dan melihat Papua!"

Di akhir catatannya, Frederika Koran mengajak agar rakyat Papua "angkat topi, salute  bagi perjuangan! Hanya dengan berjuanglah, kita dihitung."

Kombes Jhonni Isir menjadi ajudan Presiden Jokowi setelah posisi tersebut kosong ditinggal Brigjen Listiyo Sigit Prabowo yang diangkat menjadi Kapolda Banten pada Oktober 2016.
Menurut Tito, Jokowi memilih Edison setelah melihat ajudan Kapolri, Brigadir Stevanus dalam acara HUT Bhayangkara pada 10 Juli 2017.

Setelah melihat Stevanus, Jokowi jadi ingin memiliki ajudan pribadi yang berasal dari Papua.

"Beliau menanyakan kepada saya, ' Ajudan Pak Kapolri orang Papua?', (saya jawab) 'Ya betul Pak. (Beliau tanya) 'Bagus enggak?', (saya jawab) 'Bagus Pak, lima tahun bersama saya, cerdas, loyal, bisa memahami apa yang kita inginkan, dan seterusnya lah'," ujar Tito menirukan percakapannya dengan Jokowi di Mapolda Metro Jaya, Rabu (16/8/2017), dikutip dari Kompas.

Mendengar keinginan Presiden, Tito langsung mengusulkan nama Johnny. Sebab, Johnny memiliki kesamaan dengan para ajudan Jokowi lainnya dari unsur TNI AU, AD, dan AL.

Jhonny dan tiga ajudan Jokowi lainnya itu sama-sama lulusan Akademi Kepolisian/Militer angkatan 1996. Selain itu, Jhonny merupakan penerima penghargaan Adhimakayasa di angkatannya.

Sumber: http://www.satuharapan.com
Ajudan Presiden Diharap Tak Lupa Darah yang Tumpah di Papua Ajudan Presiden Diharap Tak Lupa Darah yang Tumpah di Papua Reviewed by Fakfak on 12:48:00 Rating: 5
Powered by Blogger.