Membebaskan Pendidikan yang “Tersandera”

Opini
Everd Scor Rider Daniel
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjadjaran, Bandung. Kolumnis opini dan sastra di media beberapa masa nasional.

Pendidikan diakui sebagai komoditas penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan sebagai panggung pencarian, relevan dengan persoalan-persoalan praktis kehidupan. Pendidikan seharusnya ditinggikan, membangun keintiman untuk manusia berjumpa dengan jawaban dan tentu kepastian berdasarkan apa yang dicari. Esensi sekolah juga ditinggikan dengan maksud sebagai basis pencerahan kolektif.


Belajar dan proses pencarian adalah bagian mendasar dari pendidikan itu sendiri. Pembelajaran menjadi suatu usaha dalam menemukan, menjumpai, apa yang tidak diketahui sebelumnya. Pendidikan sebenarnya ditujukan pada proses membangun kapasitas-kapasitas rasional yang inklusif untuk menjawab kebutuhan rasa lapar akan pengetahuan.
Hari ini, esensi di ranah pembelajaran, cenderung sulit memberi udara. Pendidikan disandera kebiasaan behaviourisme yang cenderung menciptakan subordinasi, penguasaan atas objek, tanpa melibatkan aktivitas berpikir yang real. Wacana behaviourisme perlahan-lahan menciptakan ketergantungan (dependent subject), meminggirkan siswa sebagai subjek, dan memposisikannya dalam objek. Slavin (2000), mengartikan behaviouristik sebagai pendekatan interaksi satu arah antara stimulus dan respon. Dalam ilustrasi pembelajaran, siswa lebih pada menunggu dan sebagai penerima.


Makna lain pendidikan sebenarnya adalah merawat kebebasan, dan sedikit demi sedikit siswa mengaktualisasikan kebebasan dengan mencari jalan masing-masing, menuju jawaban, dengan begitu dapat melepas kesan “pendidikan bukan pendudukan”. Sepinya ruang-ruang kebebasan membuka arah menuju pendidikan yang sunyi, tanpa ada pengenalan terhadap jalan lain bagi reproduksi dan rekonstruksi ingatan atau gagasan. Konstruksi ingatan secara sadar lebih diperankan institusi pendikan, sebagai bentuk pencarian-pencarian menuju kesadaran, kritik, dan pemahaman. Maksudnya, pendidikan dibebaskan dari penjajahan teks-teks behaviouristik, dan paradigma belajar yang terpenjara dalam ruangan.


Mempertahankan behaviourisme sama seperti mengizinkan, matinya nalar dan habitus pencarian kritis. Meminjam kalimat Freire, pendidikan sebenarnya ditempatkan sebagai jalan pembebasan bagi jiwa-jiwa yang lapar, dan yang masih ditikam oleh ketidaktahuan. Pendidikan sebagai jalur pencerahan, sebagimana apa yang diistilahkan Freire “consciousnes rising” (membangkitkan kesadaran). Ketika pendidikan absen dari etika moral, dan cenderung membelenggu manusia oleh kepentingan, maka masyarakat akan dibunuh oleh ketidaksadaran. Kesadaran dalam ruang-ruang kelas menjadi tinggal wacana.


Penyelidikan dalam pencarian harusnya tidak disandera, namun memberi ruang pelibatan (engagement). Konstruktivistik dalam pendidikan (contructivist of learning), adalah jalan merawat ingatan dan pemikiran. Masyarakat benar-benar diperlakukan sebagai subjek (student centered learning), dalam menginterpretasikan kompleksitas-kompleksitas di sekitarnya. Ada proses to learn, to be. Menurut pandangan konstruktivis, aktivitas pencarian melalui pembelajaran adalah proses menuju pengetahuan. Siswa lebih dominan pada aktivitas berpikir, menjawab ketidaktahuan, dengan begitu pengetahuan akan terbentuk dengan sendirinya.


Revolusi Pendidikan Menurut Ivan Illich


Ivan Illich (1926-2002), Filsuf Austria, dikenal melalui polemik radikal di ranah kebebasan, dan kemanusiaan (human being). Pendidikan merupakan suatu wilayah kajian, dengan meletakan pemikiran di atas kebebasan dan martabat manusia, diperlakukan secara layak dalam pendidikan.


Dalam “Deschooling Society”, (Calder & Boyars, 1971), Illich berargumen, menuduh ranah pendidikan sebagai arena yang gagal, akibat orientasi kepentingan, bukan berbasis kebutuhan dalam pencarian pengetahuan itu sendiri. Pendidikan, dilihat sebagai arena yang tersandera oleh wacana produksi. Celakanya, apa yang disebut kualitas, menjadi semakin “kekurangan udara” di dalam ruang-ruang sekolah.


"Schools have failed our individual needs, supporting false and misleading notions of "progress" and development fostered by the belief that ever-increasing production, consumption and profit are proper for measuring the quality of human life”.


"Sekolah telah gagal menjawab kebutuhan individu, mendukung keganjilan atau kepalsuan dan menyesatkan pengertian soal kemajuan, dan pengembangan yang diciptakan, dipelihara oleh keyakinan produksi, konsumsi dan keuntungan sebagai tolok-ukur untuk kualitas hidup manusia.


Pengandaian Illich, ada benarnya. Dan tidak bisa sepenuhnya disalahkan apalagi dituduh sebagai pemikiran sesat. Kenyataannya, selama pendidikan masih berada di jalan kepentingan, tidak pada proses membangun aktivitas berpikir, akan selama itu juga tidak ada suatu ukuran rasional bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Dengan menetralkan sudut pandang, pertautan asumsi menjadi perlu, pengujian terhadap dominasi subjektif yang begitu kuat penting dipertemukan kembali dalam ranah-ranah pendidikan. Sekolah harus mengizinkan adanya antitesis (melalui diskusi, kritik), dan segala perbedaan sudut pandang itu harus dibenturkan dalam arena gagasan, dengan harapan membangun proposisi logis.


Kualitas di ranah pendidikan menjadi kalah wacana, karena tersandera oleh wacana-wacana besar lainnya (kepentingan kapitalistik). Salah satu kritik yang juga dikemukakan, bersandar pada kegelisahan soal masyarakat yang tidak sepenuhnya dapat menikmati pendidikan. Karena sandera kapitalisme, sekolah menjadi ruang ekslusif, dan terpenjara bagi sebagian jiwa. Pendidikan diibaratkan layaknya jalan tol, yang boleh masuk adalah mereka-mereka yang beruntung saja. Dan bagi yang lain, hanya bisa berimajinasi dalam ketertinggalan.


Di tengah situasi yang rumit seperti sekarang, lewat kecenderungan-kecenderungan provokatif itu, Ilich membawa udara kesadaran, mengajak pemikiran untuk tidak terbelenggu (captive mind), menciptakan pendidikan yang bebas (freedom school), lepas dari sandera kepentingan supaya tidak terbawa oleh arus wacana. Melainkan tiba pada esensi yang seharusnya.

Radikalisme pemikiran Illich, dapat dibaca dalam “Deschooling Society” atau masyarakat tanpa sekolah. Argumen yang disampaikan membuka ranah pemikiran kritis, membangun pengatahuan yang civilized (beradab), agar tidak terjadi kekerasan terhadap akal sehat, menjumpai frustrasi dalam pencarian-pencarian. Besar tantangan bagi pendidikan di tengah perubahan sekarang dalam mempertahankan prinsip dan eksistensi pengetahuan dan kesadaran. Sekolah seharusnya memberi udara, menyediakan jalan bagi manusia berjumpa dengan jawaban. Karena pendidikan, membuat kita lebih memahami hari esok.

***
Baca Juga Opini dari Everd Scor Rider Daniel :
- Nyali Media, Pembangunan, dan Hak Jurnalisme di Tanah Fakfak

Punya opini dan ingin publish disitus ini, Silahkan kirimkan melalui : Link ini
Membebaskan Pendidikan yang “Tersandera” Membebaskan Pendidikan yang “Tersandera” Reviewed by Fakfak on 09:49:00 Rating: 5
Powered by Blogger.