Hari PBB ke 76; Ini  20 Tuntutan Aktivis

Hari PBB ke 76; Ini 20 Tuntutan Aktivis

Yogyakarta - Momen Hari Jadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN)  ke 76 pada 24 Oktober 2021 disikapi aktivis mahasiswa dengan aksi longmars dari Asrama Mahsasiswa Papua Kamasan menuju Titik Nol KM Yogakarta.

Aksi dari Front Rakyat Indonesia bersama Aliansi Mahasiswa Papua ini dimulai pada 14.00 WIB. Aksi ini berjalan dengan aman dan lancar sampai selesai. 

Berikut isi pernyataan dari AMP dan FRIWP

HUT PBB 76 TAHUN :
PERSATUAN BANGSA – BANGSA , KOLONIAL INDONESIA – BELANDA
IMPERIALISME AMERIKA SERIKAT SEGERA MENGAKUI KEMERDEKAAN BANGSA PAPUA 1 DESEMBER 1961

Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Amakanie, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Nayaklak Wawawawawawa..wa..wa..wa..wa!

Persatuan Bnngsa – Bangsa, Kolonial Indonesia, Belanda dan Amerika Serikat segera bertanggung jawab dengan Resolusi PBB 2504 (XXIV) tanggal 19 November 1969 sebelum disahkan oleh Sekjen PBB U Thant maka resolusi ini disirkulasikan kepada negara-negara anggota PBB yang hadir saat itu. Dengan Sepangat eksploitasi kapital modal di Irian Barat ( West Papua ) oleh amerika, belanda dan kolonialisme Indonesia. dalam praktek yang dijalan adalah dengan dicetuskan Trikora oleh Soekarno, membentuk operasi komando mandala 1962, dipimpin jendral soeharto dan sukses dijalankan. pada 15 agustus 1962 diadakan perundingan di markas PBB, New York Inggris. Dalam perundingan itu status wilayah Papua diserahkan kepada PBB (UNTEA). Kemudian pada 1 mei 1963 wilayah Papua secara resmi di serahkan kepada Indonesia. Bagi Indonesia ini adalah kemenangan namun bagi rakyat Papua, merupakan awal pemusnahan bagi tanah dan rakyat Papua.

Pada tahun yang sama (1963) terjadi gerakan perlawanan rakyat Papua, di Jayapura dibawah pimpinan Aser demotokay. Namun semangat perlawanan yang paling kuat terjadi di Kebar pada 26 juli 1965 dibawah pimpinan Yohanes Jambuari dan Benyamin Anari, serta di Manokwari dan pedalaman Arfak pada 28 juli 1965 dibawah pimpinan Permenas Ferry Awom, Lodwick Mandacan, Barren Mandacan dan Irogi Meidodga, dari Pertempuran ini banyak menimbulkan korban berjatuhan dari Rakyat Papua. Setelah melengserkan soekarno pada 1966, soeharto melanjutkan operasi militer di Papua. Pada 1967, dua tahun menjelang Pepera, tercatat tentara mengeksekusi banyak orang Papua dan membakar kampung di Ayamaru, Teminabuan dan Inawatan (sorong), diperkirakan 1500 orang tewas. Kampung-kampung lain di kepala burung (istilah untuk Pulau Papua Barat) juga dilempari granat dan bom. Dua tahun kemudian Pepera digelar, tercatat dari 800.000 penduduk rakyat Papua, hanya 1025 orang yang disertakan untuk memilih bergabung bersama Indonesia, karena ancaman militer dengan todongan senjata.

Setelah Pepera digelar, Soeharto menetapkan Papua menjadi daerah operasi militer, seperti Operasi Sadar , Operasi Wibawa, dan Operasi Galang. Dalam operasi ini banyak rakyat Papua di intimidasi, disiksa, diteror bahkan dibunuh setiap harinya karena menolak hasil pepera yang tidak sesuai dengan mekanisme PBB. Sehingga Operasi ini bertujuan untuk memaksa rakyat Papua untuk menerima, hadirnya pemerintah Indonesia di Papua. Operasi militer kian masif diera orde baru. peristiwa paling pahit dirasakan rakyat Papua terjadi ditahun 1974-1975 yakni pembunuhan massal di Biak, dengan jumlah korban yang diketahui sebanyak 207 orang dan masih banyak lagi yang belum sempat didata secara mendetail. kemudian di tahun 1977 di Wilayah Wamena, terutama lembah balim dengan korban di perkirakan hampir 3000 jiwa dari suku Dani. Tak hanya itu, ada banyak Rakyat Wamena dibom ditembak dan bahkan diperkosa secara biadap oleh militer indonesia. masih di tahun yang sama menjelang pemilu 1977-1978, TNI AD dan TNI AU membombardir daerah selatan Jayapura (perbatasan) diperkirakan 1.605 orang dari OPM dan penduduk wilayah itu tewas.

Operasi militer terus berlanjut ketika Operasi Sapu Bersih 1980-1984 dijalankan pasukan Baret Merah (istilah untuk Komando Pasukan Khusus/Kopasus) yang dipindahkan dari Timur leste ke Papua. mereka melakukan penyisiran, penangkapan, penyiksaan serta pembunuhan yang kemudian membuat rakyat Papua takut dan melarikan diri ke PNG. Diperkirakan 10.000 orang, namun 7.500 orang yang berhasil dan 1.900 orang berdiam diri dihutan-hutan sekitar perbatasan. Selain itu tokoh budayawan Papua, asal biak Arnold Clemens Ap. Pun Ditangkap lalu dibunuh oleh Kopasus 1984. Setelah tumbangnya suharto. Habibi berikan Otonomi khusus hingga sampai kepimpimpinan Jokowi - Maruf Amin demikian memberikan Otonomi Khsus yang itu menyebabkan konflik diatas konflik, diantaranya ; Pembunuhan secara masif ditanah papua, Perampasan Lahan yang mencapai 19 Juta Hektar, tambang freeport yang saudah mencapai 2000 Meter di Bawa Permukaan Air Laut, Penangkapan Victor Yeimo dan seluruh Aktivis Pro Papua Merdeka, Pengungsian di Dnuga, Intan Jaya, Puncak Papua, Maybrat, Pegunungan Bintang bahkan Pula Konflik Horizontal Terus dibangun di tanah west papua serta Pembungkaman Ruang Demokrasi.

Maka kami yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Yogyakarta bersama Front Rakyat Indonesia untuk West Papua, Menuntut Kepada Perserikatan Bang – Bangsa, Kolonial Indonesia – Belanda serta Negara Imperialisme Amerika Serikat :

1. Berikan Hak Menentu Nasib Sendiri, Sebagai Solusi Demokratis Bagi Bangsa West Papua
2. Bebaskan Viktor Yeimo Dan Seluruh Tapol Papua
3. Tarik Militer Organik Dan Non-Organik Dari Seluruh Tanah Papua
4. Usut Tuntas Kasus Pelanggaran HAM Di Tanah Papua
5. Stop Cap Teroris Terhadap Pejuang West Papua
6. Stop Perampasan Tanah Adat Untuk Kepentingan Kapitalisme
7. Tolak Smelter Freepor Di Gresik
8. Tutup PT. Freeport, LGN Tangguh, Blok Wabu, PT Antam Serta Seluruh Perusahan Yang Menjadi Akar Kejahatan Kemanusiaan Diatas Tanah Papua
9. PBB Segera Mengakui Kemerdekaan West Papua
10. Tolak Pembangunan Makobrimob, Kodam, Kodim Di Yahukimo Dan Seluruh Tanah Papua
11. Usut Tuntas Penembakan Idam Alfariski Di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah
12. Hentikan Kriminalisasi Aktivis Dan Gerakan Rakyat.
13. Segera Berikan Akses Bagi Jurnalis Independen Tingkat Nasional Dan Internasional
14. Hentikan Perampasan Paksa Dan Intimidasi Terhadap Warga Sipil West Papua
15. Hentikan Segala Program Kolonialisme Diatas Tanah West Papua
16. Stop Rasisme
17. Cabut Otsus Jilid 2
18. Cabut Omnibus – Law
19. Cabut Perusahaan di Wadas dan Jomboran
20. Cabut Resolusi PBB 2504 Yang Tidak Demokratis Bagi Rakyat West Papua

Medan Djuang, 24 Oktober 2021

0 Response to "Hari PBB ke 76; Ini 20 Tuntutan Aktivis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel